Review Penyalin Cahaya (Photocopier): Kisah Penyintas Pelecehan Sexual di Lingkungan Kampus

Film yang ditunggu-tunggu dari tahun lalu akhirnya tayang juga. Penyalin Cahaya (Photocopier) yang saya kira bakal tayang di bioskop kini sudah bisa ditonton di Netflix per tanggal 13 Januari kemarin. Bersyukurnya, film ini jadi bisa ditonton oleh penonton dari seluruh dunia. Penyalin Cahaya pertama kali tayang di Festival Film International Busan, Korea Selatan pada tanggal 8 Oktober 2021 dan di Jogja-NETPAC Asian Festival (JAFF) 2021 tanggal 2 Desember lalu.

Vibes film ini memang sudah santer terdengar dari tahun lalu. Di Twitter saja sempat trending berkali-kali karena Penyalin Cahaya berhasil masuk 17 nominasi Festival Film Indonesia (FFI) 2021, dan menyabet 12 Piala Citra FF1 2021 sekaligus, wow. Penyalin Cahaya juga menjadi film Cerita Panjang Terbaik FFI 2021, keren, kan. Nggak heran sih kalau sampai detik ini masih jadi bahan obrolanan netizen di sosial media. Setelah dua kali nonton film ini, masih berasa sakit hati, perih rasanya. Film ini memang Uedan sih. Ngaduk-ngaduk emosi.

Penyalin Cahaya merupakan film panjang pertama dari Wregas Bhanuteja. Dulu saya pernah nonton film pendeknya di youtube, Lemantun. Dan juga Tak Ada yang Gila di Kota ini yang diadaptasi dari cerpennya Eka Kurniawan dengan judul yang sama. Film ini membawa Sex Harrasment issue yang terjadi di ranah Pendidikan yang sangat relateable dengan keadaan saat ini mengenai banyaknya kasus dan kisah para korban pelecehan sexual yang terjadi di Indonesia.

@imdb.com

Sinopsis:

Penyalin Cahaya berkisah tentang Suryani (Shenina Syawalita Chinnamon) mahasiswi berprestasi jurusan web desain tahun pertama yang mendapat beasiswa dari kampus. Sur menjadi anggota baru teater kampus, teater Mata Hari yang mengurus website teater. Ketua teater Mata Hari, Anggun (Dea Panendra) yang juga sebagai sutradara, Rama (Giulio Parengkuan) yang merupakan penulis di teater tersebut, dan Kakak Senior teater, Thariq (Jerome Kurnia).

Setelah kemenangan teater, besoknya mereka mengadakan party di rumah Rama untuk merayakan keberhasilan teater mereka yang sekaligus membawa mereka untuk mengikuti kompetisi tingkat asia di Kyoto, Jepang. Awal mula kejadian dimulai di sini. Sur dan sahabatnya, Amin (Chicco Kurniawan) seorang tukang fotocopy di kampus tersebut datang bersama. Mereka party sambil ‘minum-minum’. Setelah selesai, pagi harinya Sur, sudah tertidur dan berada di kamar rumahnya.

Foto selfienya yang sedang drunk tersebar di internet dan lingkungan kampus. Beasiswanya terpaksa dicabut. Rasa kecewa dan marah jadi satu. merasa ada yang ganjal dari semua kejadian yang dialami. Hingga dia mencari tau, dengan dibantu Amin buat curi data teman-temannya di hape. Sur dengan gigih mencari jawaban siapa orang yang tega berbuat keji kepadanya? Hingga pada akhirnya satu per satu petunjuk dia dapatkan.

@imdb.com

Dan di sini cerita menjadi menarik karena penonton seperti diajak mencari tau siapa dalang dari semua ini. Selain bertabur bintang, Akting para pemain di film ini sangat bagus. Membuat kita bisa merasakan empati kepada karakter yang dimainkan mereka. Ada Bapaknya Sur yang dimainkan (Lukman Sardi), Ibunya Sur (Ruth Marini), Farrah (Lutesha) yang berhasil mencuri perhatian penonton.

Kita diperlihatkan bagaimana perjuangan seorang penyintas pelecehan sexual dalam memperjuangkan haknya untuk menuntut si pelaku dan membawanya ke ranah hukum. Jungkir balik Sur demi mendapatkan keadilan sangat terasa di sini. Emosi kita akan dibuat campur aduk. Kesal, Marah, Sedih, Muak dan lain sebagainya. Pelaku yang mempunyai Power besar yang membuat kejahatan sexual terasa sulit untuk dibungkam. Hukum seakan bisa dibeli ditangan mereka. Ingat, kejadian seperti ini tidak hanya menimpa perempuan, tetapi juga laki-laki, anak kecil bahkan siapa saja.

@imdb.com

Dari film ini kita seakan diberikan gambaran bahwa pelcehan sexual itu bisa menimpa siapa pun, di mana pun, dan kapan pun. Tidak pandang bulu. Di dunia yang memang sudah gila ini, apa pun bisa terjadi, bahkan hal-hal yang tidak pernah terbayangkan sekalipun. Ada satu jargon di film ini yang membekas dan menyimpan makna tersirat di dalamnya. 3M: Menguras, Menutup, Mengubur. Seperti kasus yang dialami Suryani, dan Suryani, Suryani lainnya di luar sana.

Disamping kasus yang dialami salah satu crew Penyalin Cahaya yang menjadi bahan pembicaraan hangat baru-baru ini. Pihak Rekata Studio & Kaninga Pictures sudah menindak lanjuti kasus ini. So, Calm down, dan sudah tidak ada alasan lagi untuk tidak menonton Penyalin Cahaya.

IMDb rating 7.5/10

Rating dari saya 88/10