Mendaki Gunung Rinjani Lombok-Nusa Tenggara Barat Lewat Jalur Sembalun-Torean (Bagian 2)

Jalur Torean

Melanjutkan cerita sebelumnya, Mendaki Gunung Rinjani Lombok-Nusa Tenggara Barat Lewat Jalur Sembalun-Torean (Bagian 1) saat saya dan teman-teman mendaki Gunung Rinjani Lombok-Nusa Tenggara Barat lewat jalur Sembalun-Torean yang menguras tenaga.


Setelah turun dan belum berkesempatan menduduki puncak gunung Rinjani, saya dan tiga orang lainnya kembali ke tenda yang dijaga oleh porter.


Karena masih pagi, dan belum masuk jam 8, Bapak porter yang memang stand by di basecamp Plawangan Sembalun terlihat sedang sibuk memasak sarapan.


Kami membantu agar cepat selesai karena rencananya jam 12 kami akan langsung beres-beres dan lanjut ke danau Sagara Anak. Karena kami juga harus menunggu satu orang teman kami yang berhasil muncak turun dulu.


Perkiraan kami dia sampai ke basecamp siang. Jadi kami pun membantu untuk merapihkan barang-barangnya biar nanti bisa segera berangkat tanpa harus menunggu lama.

Jam 1 siang kami turun menuju danau Sagara Anak. Kasihan teman yang baru datang, istirahat sebentar, dan harus berangkat turun lagi. Gambaran seorang Wonder Woman in real life ada di dia. Dia adalah seorang Yogi, dan ibu dari tiga orang anak. Luar biasa.


Jalur yang kami lewati masuk ke dalam jalur torean. Jalur yang menurun, berbatu, dan belum ada banyak perbaikan.


“Kalau cuaca cerah, kita bisa sampai ke danau kira-kira sekitar 3 jam. Jalurnya turunan, belum banyak yang lewat Torean, baru juga dibuka tahun lalu.” kata Pak Porter.

Setelah menyusuri jalur yang panjang menurun terjal, berbatu, dan diselingi padang savana, akhirnya kami sampai di danau Sagara Anak sekitar jam 5 sore. Perjalanan yang kami tempuh sekitar 4 jam lebih.


Di pinggiran danau Sagara Anak sudah banyak tenda tertancap. Rencana kami bermalam sehari di sini dan lanjut berangkat pagi. Sesampainya di Danau, Saya, Yusuf, dan Lauren memancing ikan di danau Sagara Anak.


Hanya bermodal benang kenur yang kami minta dari orang yang sedang memancing, dan memberi umpan roti tawar yang kami bawa. Ikan yang kami dapat banyak sekali, lumayan buat makan malam kami berlima. Ikannya segar dan enak walau digoreng dengan bumbu seadanya.

Memancing di Danau Sagara Anak


Selesai makan malam, kami berempat pergi ke hot spring (kolam air panas) yang berada tidak jauh dari danau Sagar Anak. Di sana sudah banyak orang yang berendam.

Malam ini cerah, dan terang bulan. Walau kondisi pemandian air panas minim cahaya, saya masih bisa sedikit melihat ada beberapa kolam air panas alami di sana.


Sesampainya berendam, kami segera bergegas menuju tenda untuk istirahat. Di pinggir bibir danau sudah ada banyak orang yang sedang melakukan ritual. Menurut informasi mereka adalah suku sasak Lombok yang beragama hindu. Suara lonceng dan rapalan doa yang dilantunkan mereka memecahkan keheningan malam.


Ritual itu berhenti menjelang fajar. Dan pagi harinya, terlihat sisa-sisa sesajen bekas ritual dan sebagian ada yang dilarung ke danau.

Pagi harinya kami memancing kembali untuk sarapan. Dan kami menangkap ikan seperlunya karena kalau pagi rasanya kurang enak kalau makan besar.


Setelah sarapan selasai, dan beres-beres, jam 9 pagi kami melanjutkan perjalanan kembali. Perjalanan akan memakan waktu sekitar seharian.


“Kalau cuaca cerah, terus jalannya cepat dan tidak banyak istirahat, kita bakal sampai di pos 1 Torean jam 5 sore.” jelas Pak porter. Panas dingin saya mendengarnya, lama juga ternyata.


Setelah satu jam jalan melewati jalan yang menurun dengan jalur yang dikelilingi savana saya optimis untuk bisa tepat waktu. Memasuki dua jam perjalanan dan seterusnya.

Ternyata jalannya banyak yang rusak. Penuh batu-batuan dan dikelilingi jurang yang luar biasa dalam kayak nggak ada ujungnya.


Keamanan minim. Cuma ada sutas tali nempel di dinding. Kami jalan menyisir dengan lebar jalan hanya 1 meter yang di bawahnya jurang. Ngeri-ngeri sedap.

Jalur berikutnya bukan menurun, tapi turun-naik gunung yang saya sendiri sudah tidak tau berapa kali anak-anak bukit dan gunung yang sudah didaki dan diturunin.


Ditambah lagi ada adegan panjat tebing dan menuruni tebing dengan bantuan tali yang seadanya. Di sepanjang jalur perjalanan terdapat banyak mata air dan sungai.

Jadi untuk urusan air, tidak akan terkendala. Jalur torean itu persis kayak lirik lagu film kartun Ninja Hatori. “Mendaki gunung lewati lembah, sungai mengalir indah…,”

Jalur Torean


Buat pendaki yang mau santai nanjaknya sambil menikmati pemandangan, recommended sih jalur torean ini.

Tapi bagi yang nggak terlalu suka medan yang extrim, jalur ini kurang cocok. Karena ada beberapa pendaki yang sampe bermalam di sini, sudah malam tapi masih belum sampai.

Dan jarang terlihat pendaki lewat sini juga. Tetapi pemandangan yang bisa kita lihat sangat sangat indah. Ada penampakan air terjun juga yang tinggi banget. Juara sih kalau soal lanskap indahnya jalur Torean.


Di pos 1 ada banyak tukang ojek. Saran saya mending naik ojek. Karena dari pos 1, kita masih harus jalan lagi kurang lebih 1 km dengan jalur mirip hutan yang masih alami.


Karena sudah jam 6 saat itu, kami memutuskan naik ojek untuk sampai ke basecamp. Karena sebelumnya juga sudah hujan dari jam 4 sore.***

Di Tepi Jurang Air Terjun Penimbungan

Mendaki Gunung Rinjani Lombok-Nusa Tenggara Barat lewat jalur Sembalun-Torean (Bagian 1)

Landskap di Sekitar Desa Sembalun

Aku mau cerita sedikit pengalaman naik gunung RinjaniLombok, Nusa Tenggara Barat saat pandemi di bulan september 2021. Awalnya aku coba ikut open trip bareng Backpacker Jakarta (BPJ), berhubung ada Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) level empat pada waktu itu yang seharusnya di bulan Juli berangkat, jadwal diubah ke Agustus, dan karena PPKM masih terus berlanjut, hasil diskusi di grup memutuskan untuk dialihkan ke tahun depan. PCR yang mahal, dikejar waktu dan lain-lain menjadi alasan di postpone ke tahun depan.

Setelah melewati drama panjang, dan karena aku memang sudah ada niat untuk pergi tahun ini ditambah sudah beli tiket pesawat (walau tidak dipakai karena Air Asia batalin penerbangan selama PPKM) akhirnya aku dan tiga member lain memutuskan untuk tetap berangkat tanggal 17 September yang dengan terpaksa harus beli tiket lagi. Karena syarat keberangkatan saat itu cukup test antigen saja. Salah satu dari kami ada yang sudah ke Rinjani jadi agak merasa terbantu, walaupun kami belum saling kenal.

Tiba di Bandara Zainuddin Abdul Majid-Lombok

Setelah sampai di bandara Zainuddin Abdul MajidLombok kami langsung cari masjid untuk shalat jumat dan setelah itu langsung pergi ke basecamp yang direkomendasikan salah satu member. Dari bandara sudah dijemput sama pemilik basecamp. Sesampainya di sana kami diskusi mengenai rencana besok, ngobrol-ngobrol dengan pemilik basecamp yang ramah, dan istirahat.

Rencananya kami akan berangkat via Sembalun – Torean, tiga hari dua malam. Jadi nanti bisa nge-camp di Sagara Anak dan pulang melalui jalur Torean yang merupakan jalur baru dan katanya memiliki pemandangan yang sangat indah, sekaligus jalurnya sangat menantang dan bikin sport jantung.

Kondisi Basecamp

Habis shalat shubuh kami diantar pemilik basecamp pergi ke desa Sembalun buat urus Surat Izin Masuk Kawasan Konservasi (SIMAKSI) Taman Nasional Gunung Rinjani. Jarak dari basecamp ke Sembalun sekitar satu jam, agak jauh memang tapi tidak apa karena tempat dan pelayanannya bagus.

Gerbang Sembalun – Pos 1 – Pos 2

SIMAKSI di Desa Sembalun
Gerbang Sembalun

Kami menyewa jasa satu porter yang akan menjadi guide, membawa tenda, logistik, bantu-bantu masak, dan cari air. Dari desa Sembalun ke gerbang Sembalun kami diantar naik mobil dan lucunya adalah dari pintu gerbang Sembalun ke pos dua kami naik ojek atas saran dari anak-anak yang lain. Katanya itu bisa memangkas waktu sekitar tiga jam.

Pangkalan Ojek Pos 2

Gunung Rinjani adalah gunung tertinggi nomor tiga setelah Gunung Kerinci dan Puncak Jaya, dengan ketinggian 3.726 mdpl dan itu pasti melelahkan sekali, jadi kalau bisa sampai puncak ya syukur, dan jika tidak pun ya tidak jadi apa-apa.

Pos 2 – Pos 3

Landskap di Sekitar Pos 2

Kami mulai trekking dari pos dua, sekitar jam sepuluh siang. Selama trekking masih aman karena kondisi jalan cenderung landai dan sepanjang mata memandang padang savana. Cuaca cerah tapi berangin jadi antara panas campur dingin. Dan pada saat itu cukup banyak pendaki yang nanjak, dan banyak penampakan bule juga. Kurang lebih sekitar dua jam lamanya.

Pemandangan selama perjalanan itu awalnya biasa saja, tetapi semakin lama, semakin menanjak treknya pemandangan yang disuguhkan semakin indah. Bukit-bukit hijau terdampar, dari jauh terlihat gunung Rinjani yang gagah, persis setting film The Lord of The Rings.

Pos 3 – Plawangan Sembalun

Jalur Semakin Menanjak

Sesampainya di Pos 3, jalur semakin menanjak dan terasa melelahkan. Jalur ini biasa disebut Bukit Penyesalan. Mungkin karena jalurnya yang banyak tanjakannya dan bikin capek. Perjalanan memakan waktu sekitar empat jam dan itu full nanjak, kebayang capeknya dan agak ngeri sih pas lihat ke bawah karena cukup tinggi. Dan pemandangan yang terlihat juga jadi semakin indah. 

Disambut Kawanan Monyet

Sore harinya kami sampai. Disambut oleh puluhan monyet-monyet eksotis. Danau Sagara Anak nampak jelas dari sini. Landskap yang indah kayak lukisan cat minyak. Di sini kami dan para pendaki nge-camp. Karena di sini tanahnya cukup landai. Dan yang buat aku heran adalah bapak porternya sudah sampai duluan dan pasang tenda. Luar biasa.

Plawangan Sembalun – Puncak Rinjani (Summit Attack)

Tenda Para Pendaki

Selang beberapa menit cuaca mendadak buruk. Angin kencang dan hujan tiba-tiba turun. Suhu yang memang sudah dingin jadi semakin dingin dan mendadak gelap. Padahal masih sekitar jam empat sore. Kami dan para pendaki lain memutuskan untuk masuk tenda masing-masing saking parahnya badai saat itu. Kami pun masak di dalam tenda. Berkumpul dalam satu tenda yang agak besar buat makan malam. Bapak porter bilang kalau keadaan seperti ini biasanya ada yang sedang melakukan ritual atau sembahyang disekitaran Kawasan Gunung Rinjani atau di danau Sagara Anak.

Penampakan Danau Sagara Anak

Semakin malam semakin dingin. Hujan turun dan angin kencang sampai menggoyangkan tenda. Suara semuruh terdengar jelas. Agak chaos suasananya. Keadaan berlangsung semalaman. Jam empat pagi kami siap muncak, walau agak kesiangan berangkatnya. Sebenarnya agak segan karena masih capek, ngantuk, dan suhunya dingin banget. Hujan sudah berhenti tapi angin kencang masih ada. Karena seorang dari kami ingin sekali summit jadi kami berempat bergegas ke sana. Dengan membawa bekal seadanya akhirnya kami berempat pun berangkat.

Mencapai Puncak itu Bonus

Menikmati Breakfast
Kawan di Puncak

Jalur yang kami lalui semakin lama semakin menanjak, banyak bebatuan dan berpasir. Jalur agak rusak efek gempa Lombok 2018 lalu. Tali temali sederhana dipasang di setiap tebing untuk membantu memanjat tebing yang lumayan tinggi. Walau hanya bawa backpack saja tapi rasanya capek banget. Keinginan untuk sampai summit pupus sudah.

Alhasil aku dan dua teman ditambah satu orang pendaki lain memutuskan untuk tidak sampai puncak. Dan hanya satu orang yang sampai puncak bareng pendaki lain. Aku dan yang lain tetap naik tapi hanya untuk menikmati pemandangan dari ketinggian yang ternyata sangat indah. Minum kopi, sarapan sambil ngobrol-ngobrol. Mengingat perjalanan setelah ini masih panjang dan akan melelahkan jadi kami lebih memilih untuk menghemat tenaga karena selanjutnya kami akan langsung ke danau Sagara Anak yang terkenal itu.

Landskap Danau Sagara Anak