Review Buku Sumur dari Eka Kurniawan

Cover buku SUMUR
Sumur

Buku baru dari penulis Eka Kurniawan yang baru aku baca adalah Sumur. Buku yang bisa diselesaikan hanya dengan lima sampai sepuluh menit ini adalah cerita pendek. Dan isi bukunya hanya itu saja. Jadi bukunya lumayan tipis. Dan bukunya kecil, semacam buku saku. Cover dan desainnya bagus, karena ada ilustrasinya. Buku ini terdiri dari lima puluh halaman.

Jadi buku ini bercerita tentang seorang pemuda-pemudi kasmaran bernama Toyib dan Siti yang tinggal di sebuah desa asri. Entah kenapa desa tersebut banyak mengalami kesukaran pasca meninggalnya seorang warga akibat perkelahian. Bencana alam silih berganti menimpa desa tersebut yang membuat mereka harus kesusahan mendapatkan air bersih, bahkan harus mengambilnya ke sebuah sumur tua di atas bukit yang merupakan sumur satu-satunya yang tersisa.

Cover dan desain buku Sumur
Cover buku SUMUR

Dari sanalah muasal cerita di buku ini. Tragedi demi tragedi berdatangan. Gambaran tentang hidup itu terasa suram dan pedih dalam cerita ini. Dan realitanya memang seperti itu. Dan endingnya cukup mencengangkan. Cerita Pendek ini bertemakan Climate Change atau perubahan iklim yang menimpa bumi. Dan epiknya dibalut dengan cerita romance.

Oh ya, cerita pendek ini masuk ke dalam nomine Man Booker International Prize 2016 dan peraih Prince Claus Laureate 2018. Dan pertama kali terbit dalam bahasa Inggris di antologi Tales of Two Planets dengan judul “The Well” yang diterbitkan oleh Penguin Books pada tahun 2020.

Cantik itu Luka dan Kisah-Kisah Absurd yang Tragis

Jika ditanya buku yang paling berkesan buat saya adalah saya pasti jawab Cantik itu Lukanya Eka Kurniawan. Buku-buku yang saya baca kebanyakan memang fiksi, seperti novel, kumpulan cerpen dll. Sebenarnya saya juga suka novel-novelnya dari penulis lain, seperti Haruki Murakami, Leo Tolstoy, Dee, Paulo Coelho dan masih banyak lagi.

Tetapi entah kenapa novel Cantik itu Luka ceritanya sangat berkesan sekali buat saya. Dari plotnya, karakter-karakter yang dibuatnya dan ceritanya juga agak ‘menyentil’ buat kita. Entah kenapa saya suka cerita yang bergaya realism dan surrealism. Kayak membawa kita untuk berpikir out of the box. Dan tidak membatasi imajinasi tetapi sarat makna dan agak tersirat. Agak aneh, nyeleneh tapi masuk di akal juga.

Seperti cerita yang dihadirkan oleh Eka Kurniawan dalam Cantik itu Luka. Cenderung berani dan apa adanya. Dan dari kisah ini saya bisa melihat sedikit gambaran wajah negara kita tempo dulu, culture yang memang apa adanya. Semua diceritakan dengan berani, tanpa ada ditutupi dan dimanis-manisin. Jadi gaya cerita dari Eka Kurniawan itu bisa sekeren itu. Dan ini berlaku untuk semua buku-bukunya.

Cantik itu Luka bercerita tentang seorang Wanita cantik yang dulunya adalah seorang pelacur, dia mati dan kemudian bangkit dari kuburnya untuk menceritakan kisah tragedi yang menimpa keluarganya. Dari awalnya saja kita sudah dibuat aneh dengan alur ceritanya. Tetapi setelah dibaca terus dan terus, ceritanya tidak sesederhana itu. Dan cerita yang terkesan absurd, tidak mungkin bisa mungkin di cerita ini dan kita seakan diajak berpetualang ke masa lampau di mana negara kita masih ‘terjajah’ dan mulai ‘merdeka’.

Buku setebal kurang lebih lima ratus halaman tidak akan terasa membosankan. Karena kita disuguhkan cerita yang ‘beda’ dan bahkan ada selipan sejarahnya juga tentang negeri kita yang tidak pernah ada di buku pelajaran sekolah. Jika ditanya buku apa yang berkesan buat saya, mungkin saya akan menjawab yaitu novel Cantik itu Luka dari Eka Kurniawan, salah satunya. Karena kebetulan yang muncul di kepala saya waktu menulis ini ya novel itu, Cantik itu Luka.