Beni Ananto

Pulau Pahawang-Lampung, Keindahan yang Menyengat Hati hingga Kaki

Akhir tahun kemarin, sabtu, 19-20 Desember 2020 saya ikut Open Trip (OT) Backpacker Jakarta (BPJ) ke Pulau Pahawang-Lampung. Berhubung selama pandemic ini saya Work from Home (WFH) dari Maret 2020 dan saya belum pergi kemana-mana, saya putuskan buat jalan-jalan santai buat refreshing nyegerin jiwa-raga. Karena sudah kepalang jenuh, dan sudah kekurangan vitamin sea tingkat akut, maka saya harus pergi melihat yang biru-biru. Agar bisa tetap menjaga kewarasan.

Berhubung saya juga tidak mau repot mengurus test ini-itu karena Covid-19 jika trip sendiri, jadi saya putuskan ikut OT BPJ. Dan saya memang ingin melihat laut biru, merasakan semilir angin pantai dan yang paling saya tunggu adalah snorkling. Saya berharap dengan berenang di laut lepas segala bentuk kemumetan selama WFH hanyut kebawa arus laut. Dan itu semua sudah cukup men-charging energi untuk beberapa bulan ke depan.

I was so excited, karena ini merupakan pertama kalinya saya trip ke Pulau Pahawang-Lampung, sekaligus menjadi pengalaman pertama saya menginjakkan kaki di tanah Sumatera setelah sekian lama. It finally happened. Lol.  Seperti biasa lokasi meeting point (mepo) di basecamp BPJ, di samping RS. UKI. Sebelum berangkat kakak-kakak Penanggung Jawab (PJ) bantu untuk test suhu tubuh, tanpa surat ket. rapid test. Peserta OT yang ikut sekitar 30an orang.

Kami berangkat jum’at malam dari basecamp lalu naik bus sewaan menuju Pelabuhan Merak dan lanjut naik kapal Feri ke Pelabuhan Bakauheni-Lampung selama satu jam. Suasana di dalam kapal ternyata cukup ramai. berdiri di Haluan kapal Feri, merasakan Angin sepoi-sepoi, lihat pemandangan gemerlap lampu-lampu kota dari kejauhan rasanya tenang sekali.

Sesampainya di Pelabuhan Bakauheni, kami langsung lanjut ke dermaga Ketapang dan sampai sekitar jam tujuh pagi. Saya merasa seperti sedang study tour SMA hehe. Dan ini bukan trip pertama saya dengan BPJ, sebelumnya sudah beberapa kali ikut dan seringnya berkesan.

Kami lanjut sarapan, beres-beres dan langsung naik perahu ke pulau Pahawang Besar sekaligus Taman Nemo untuk snorkling. Perjalanan kurang lebih setengah jam. Hari itu cerah, langit biru muda dan laut berwarna hijau tosca. Aroma laut dan semilir anginnya menenangkan sekali, a piece of happiness. Dari awal memang saya sudah membayangkan buat berenang di laut, dan benar-benar tidak menyangka sekarang sudah di depan mata.  

Sesampainya di lokasi yang menyatu dengan warung terapung, saya persiapkan kaca mata renang pribadi, fins dan pelampung saya sewa. Saya pun menceburkan diri ke laut bareng yang lain. Wah, nikmat Tuhanmu yang manakah yang engkau dustakan. Indah sekali Pulau Pahawang itu. Tetapi, baru lima belas menit saya di air, kejadian tidak terduga menimpa saya. Lagi asyik berenang, tiba-tiba paha saya menyentuh sesuatu, maka kejadianlah.

Paha, kaki, terasa panas terbakar. Saya buru-buru naik ke atas dan duduk di warung. Sesampainya di atas keadaannya malah semakin parah, dari perut hingga ujung kaki saya merasa seperti terciprat minyak panas pada saat goreng ikan atau goreng otak-otak.

Saya benar-benar tidak tahu apa-apa saat itu. Sampai ada orang-orang yang bilang kalau saya disengat ubur-ubur, dan mereka melihat dari atas kalau saat berenang saya menabrak ubur-ubur. Sumpah lemes banget saat itu. Saya terpikir kalau liburan saya bakal rusak. Padahal ini baru di hari pertama. Atas saran orang-orang, saya basuhi perut sampai kaki, terutama paha saya dengan air mineral yang teman saya bantu belikan di warung.

Pelan-pelan rasa sakit itu berkurang. Dan menurut warga lokal di sana, tidak sampai sehari nanti akan normal lagi. Karena kebetulan yang menyengat ubur-ubur kecil. Dan ternyata di Pulau Pahawang banyak ubur-uburnya, bahkan ada ubur-ubur listrik yang kalau disengat bisa buat orang langsung pingsan. Ngeri banget dengernya. Alhasil, saya urungkan berenang sepanjang hari itu. Saya hanya melihat yang lain berenang. Karena seharian saya masih menahan rasa sakit. Poor me, lol.

Karena di Pulau Pahawang banyak ubur-ubur, dan mereka mempunyai tubuh yang transparan dan menyaru dengan air laut yang akan membuat kita kesulitan untuk mengetahuinya. Hemat saya, jika ke sana bisa lebih hati-hati saat berenang. Dan jika terkena tetap tenang dan basuh luka dengan air laut, jangan dengan air tawar. Karena itu yang membuat luka tambah parah. Yang penting tetap semangat dan jangan kapok main ke laut, kalo enggak nanti bakal ditenggelamkan lho sama Bu Susi. Hehe

37 Komentar

  1. Permalink

    wah jadi pengalaman baru juga ya kak hehehe semoga lain waktu lebih aman dan hati hati yaaa 😀

    Balas
  2. Permalink

    Kenapa aku ikuta degdegan yaa baca part yg kesengat ubur², berbekas gitu gak sih kak? Apa cuma bisa dirasain aja? #lahkepo

    Balas
  3. Permalink

    wah kasian bener lg liburan kesengat ubur2… iya si ubur2 transparan gt jd agak susah bedainnya.

    Balas

Tinggalkan Balasan ke Sri Raditiningsih Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *