Review Film Scream 2022: Nostalgia Teror Ghostface

@imdb.com

Kali ini aku mau review film slasher horror, Scream (2022) yang sudah mulai tayang di bioskop per 12 Januari 2022. Film yang ditunggu-tunggu di tahun 2022 ini. Generasi milenial tahun 90an pasti sudah tidak asing dengan film Scream (1996). Franchise horor legendaris dengan karakter Ghostface yang ikonik pertama kali tayang pada tahun 1996, dan yang terakhir di Scream 4 (2011).

Berbeda dengan film original Scream yang tayang di tahun 1996 dan seri lainnya, Scream (2022) hadir bukan dalam bentuk reboot atau remake dari filmnya terdahulu. Film ini juga bukan kelanjutan dari Scream 4. Requel, Scream (2022) mengambil cerita pasca kejadian pembunuhan kejam 25 tahun lalu di Woodsboro pada Scream (1996).

Dikarenakan Wes Craven, Scream (1996) meninggal pada tahun 2015 alhasil film ini digarap oleh Matt Bettinelli-Olpin dan Tyler Gillett, Ready or Not (2019).

Sinopsis

@imdb.com

“Would you like to play a game, Tara?”

Film ini masih bercerita tentang sosok pembunuh bertopeng Ghostface yang kembali meneror warga Woodsboro setelah tragedi pembunuhan 25 tahun lalu. Kejadian bermula saat Tara Carpenter (Jenna Ortega) yang sedang sendirian di rumah mendapat telepon misterius yang memberikan quiz mengenai film horor favoritnya.

Setelah dicecar banyak pertanyaan yang bernada intimidate oleh sosok misterius, tak lama si Ghostface pun muncul menyerang Tara membabi buta dengan pisau. Serangan tersebut tidak membuat Tara meninggal. Tara masuk rumah sakit dengan banyak luka tusukan dan kaki patah. Kejadian tersebut membuat panik warga Woodsboro.

@imdb.com

Sang kakak, Samantha “Sam” Carpenter (Melissa Barrera) dan pacarnya Richie (Jack Quaid) yang baru dikenalnya enam bulan lalu datang menjenguk. Di rumah sakit sudah ada teman-teman sekolahnya Tara. Ada Amber Freeman (Mikey Madison), Wes Hicks (Dylan Minnette), Chad (Mason Gooding), Mindy (Jasmin Savoy Brown) dan Liv (Sonia Ben Ammar).

Tara yang sudah siuman akhirnya bertemu dengan Sam yang sudah beberapa tahun kabur dari rumah. Dari obrolan tersebut ditemui fakta mengejutkan bahwa Sam adalah anak kandung dari seorang Billy Loomis (Skeet Ulrich) salah satu pelaku dari Ghostface di Scream (1996).

Dari sini dimulailah rentetan pembunuhan yang menegangkan dan sadis. Kehadiran tiga karakter legendaris di film sebelumnya menambah seru Scream (2022). Sydney Prescott (Neve Campbell), Courteney Cox (Gale Weathers), dan Sherif Dewey Riley (David Arquatte).

Horor yang Menyegarkan dan Penuh Kenangan

@imdb.com

Pola teror Ghostface di film ini sebenarnya tidak jauh berbeda dengan film Scream sebelumnya. Korbannya adalah orang-orang yang dekat dengan korban pertama. Pelakunya yang pasti lebih dari satu orang. Diselingi dengan quiz mengenai film horor. Scene itu semua ada di sini. Bahkan lokasi rumah di babak akhir film ini sama dengan yang ada di Scream (1996).

Tidak heran jika Scream (2022) adalah new original version dari film sebelumnya. Atau kelanjutan dari Scream (1996) dan mari abaikan Scream 2-4. Nonton film ini seakan membangkitkan kenangan buat para Gen Y. Nostalgia banget nonton film ini, rasanya kayak nonton Spiderman: No Way Home saat spidey versi Andrew dan Tobey muncul.

Scream (2022) dan Gen Z

@imdb.com

Sepertinya Scream (2022) hadir untuk para generasi Z yang hidup di tahun serba digital dan internet. Film Scream (1996) yang saat itu masih belum secanggih sekarang teknologinya. Seperti scene saat Tara di telepon oleh karakter Ghostface sedang menggunakan smartphone. Teknologi keamanan rumahnya menggunakan smart lock door yang bisa dikendalikan melalui smartphone. Adegan Tara mengingatkan pada Casey di Scream (1996).

“What’s your favorite scary movie?”

Saat ditanya karakter Ghostface, Tara menjawab film favoritnya adalah The Babadook (2014) dan menyebutkan film-film yang tayang di tahun 2010 ke atas seperti It Chapter 2, Hereditery,  dan The Witch.

Di menit awal kita sudah disajikan adegan yang menegangkan. Dan ini berlanjut terus hingga di akhir film. Meskipun di saat pertengahan film alur terasa agak lamban dan eksekusi penjagalannya berasa agak kurang tapi masih bisa termaafkan. Sebagai penggemar dari franchise film ini, jika dibandingkan dengan versi Scream original tahun 1996, film ini memang masih dibawahnya sedikit. Film yang bagus, tapi tidak jelek juga. Dan jika dibandingkan yang versi Scream 2-4, film ini jauh lebih baik.

@imdb.com

Film horor ini tidak berat buat ditonton, bahkan menghibur dan segar. Penonton diajak tebak-tebakan untuk mengetahui siapa pelakunya. Nggak perlu mikir banget, karena clue-nya juga banyak. Pasti bisa ketebak siapa pelakunya. Bagi yang belum nonton film originalnya dan mau nonton film ini juga nggak masalah. Cerita di film ini masih bisa berdiri sendiri walau tanpa film sebelumnya.

Di Scream (1996) pelakunya adalah Billy Loomis dan Stu, dua remaja psycho yang sadis. Sedangkan di sini, nggak kalah gila juga. Apalagi pas tau motif para pelakunya, “Sakit”. Kelakuan Gen Z bisa absurd dan segila itu ternyata.

Don’t trust anyone

IMDb rating 7.1/10

Rotten Tomatoes rating 78% (Tomatometer), 82% (Audience Score)

Rating sendiri 80%

Ngobrolin Film Horor bareng Cine Crib

Kalau ngomongin film itu memang seru dan tidak ada habisnya. Apalagi film horor, wah gua sih semangat banget. Tahun 2021 lalu gua sempat coba ikutan sayembara Project Rahasia Cine Crib dari channel youtube-nya Cine Crib (Channel Youtube yang Ngobrolin Film) di Instagram. Setelah beberapa minggu akhirnya gua dihubungin oleh tim Cine Crib, untuk jadwal interviewed online bareng satu tim admin dari Cine Crib, Sarah Avianto. Di sini kami ngobrol santai via zoom dan ngebahas film horor dan Ratu Horor Indonesia Suzzanna.  

Enggak tau kenapa, kalo ngobrolin film atau satu hal yang gua sukai itu jadi excited. Apalagi ngobrolin film horor dan Suzzanna pula. Film almarhumah banyak yang sudah pernah gua pernah tonton dari film horornya sampai film non horor yang dia bintangin. Dari kecil gua suka banget nonton film, bahkan sampai sewa VCD/DVD di rental. Anak-anak yang hidup di tahun 90’an pasti tahu lah ya rental VCD/DVD.  Sempat juga sewa film Suzzanna bareng teman, dari film Telaga Angker, Sundel Bolong, Buaya Putih pernah sewa di rental.  

Suzzanna itu emang nggak ada obat sih seramnya. Selain itu almarhumah cantik juga. Seramnya dan cantiknya natural. Dan ini pertama kalinya gua masuk chanel youtube tentang film yang popular dan gua juga emang suka nonton Cine Crib. Setahu gua anak-anak Cine Crib itu dari moviegoers Bandung. Kebetulan gua juga pernah ngikut acaranya Cine Crib Jakarta waktu kuliah dulu. Dikenalin moviegoers sama teman yang emang moviefreak sih hehe  

Gua agak malu sih tbh, waktu lihat diri sendiri di youtube dan ditonton banyak orang walau gua juga cuma sebentar sih hehe But it’s ok. Kayaknya nggak ada juga orang yang nyadar kalo itu gua. Poor me. Hehehe  Video itu tayang dengan judul,Kenapa SUZZANNA Menyabet Gelar RATU HOROR Paling TERSOHOR? – ANABEL EPS. 5

bisa ditonton di chanel youtube Cine Crib. Monggo hehe  

Review The Wailing (2016) Horor Korea yang Gila Seramnya

imdb.com

Kali ini mau review film horor Korea selatan The Wailing yang tayang 2016 lalu. Film horor fenomenal yang menjadi salah satu film terlaris pada saat itu tidak hanya terkenal di negara asalnya saja, tetapi di dunia dan banyak menerima berbagai penghargaan perfilman seperti Grand Bell Award, Penghargaan Film Blue Dragon Award dan masih banyak lagi. The Wailing juga tayang di Cannes Film Festival 2016 .

The Wailing ini berbeda dengan film horor kebanyakan. Seram asli dan penuh teka-teki. Film arahan sutradara Korea Selatan, Na Hong-Jin yang juga pernah membuat film The Chaser, The Yellow Sea dan yang baru-baru ini viral yaitu film horor Thailand The Medium (2021). Menurut sang sutradara, pembuatan film ini didasarkan oleh pengalaman pribadi yang menimpa orang-orang terdekatnya yang meninggal secara tiba-tiba dan ganjil saat menyelesaikan film The Yellow Sea.

imdb.com

Sinopsis:

Film ini bercerita tentang sebuah desa kecil yang tenang bernama Gokseong yang digemparkan oleh kasus pembunuhan berantai. Kasus ini tidak biasa dan terbilang aneh. Kasus pertama dialami oleh pasangan suami-istri yang dibunuh secara brutal oleh anggota keluarganya. Pembunuh ini terlihat linglung dan tubuhnya penuh dengan benjolan bernanah. Ditambah ada penampakan sesuatu yang berbau klenik disekitarnya. Pembunuhan selanjutnya pun keadaannya kurang lebih tidak jauh berbeda.

Polisi berdatangan untuk memeriksa kasus tersebut. Seorang polisi bernama Jong-Goo (Kwak Do-Won) yang seorang polisi beranak satu dengan perangai gemuk, lamban dan penakut mencoba menyelidiki kasus tersebut dangan seorang rekan kerjanya, Oh Seong Bok (Son Gang Guk) setelah sebelumnya dikejutkan oleh penampakan seorang perempuan telanjang di kantornya pada malam hari saat hujan turun yang ternyata pelaku pembunuhan di kasus berikutnya.

Pada saat mereka berdua berjaga di lokasi kejadian, seorang perempuan muda misterius berpakaian putih, Moo Myung (Chun Woo-Hee) tiba-tiba muncul dan memberikan informasi bahwa pelakunya adalah laki-laki Jepang (Jun Kunimura) yang baru saja datang ke desa itu. Awalnya mereka tidak percaya, tetapi setelah ada seorang pendaki gunung yang pernah bertemu dengan orang Jepang itu dengan sosok mengerikan dan Jong-Goo sempat bermimpi buruk mengenai pria Jepang tersebut akhirnya mereka datang ke lokasi kejadian. Dan mereka menemukan fakta baru di sana.

imdb.com

Pada suatu hari Jong-Goo, Oh Seong Bok dan seorang pastor muda Katolik Bernama Yang I Sam (Kim Do Yoon) yang pandai berbahasa Jepang mendatangi rumah pria Jepang itu. Di sana hanya ada seekor anjing hitam saja. Mereka melihat penampakan seperti ritual perdukunan yang mengerikan, dan yang mengejukannya lagi adalah foto para korban yang tewas sebelumnya dan barang-barang pribadi milik korban ada di sana juga. Yang lebih mengagetkan lagi adalah sebelah sepatu milik anak perempuan Jong-Goo, Hyo-jin (Kim Hwan-Hee) ada di sana. Pada saat mereka kepergok orang Jepang itu yang tiba-tiba muncul. Mereka pun meminta maaf dan pamit. Orang Jepang itu hanya diam, dan menatap mereka dengan tatapan menyeramkan.

Di hari berikutnya Jong-Goo dikejutkan dengan Hyo-Jin yang tiba-tiba sakit. Berhari-hari dia sakit dan sakitnya terkesan aneh. Badannya banyak melepuh merah bernanah. Hyo-Jin seperti orang ketempelan dan kelakuannya aneh. Akhirnya neneknya mengundang seorang dukun Bernama II Gwang (Hwang Jung-min) untuk mengusir setan yang menempel di tubuh anaknya. Menurutnya semua itu adalah ulah dari orang Japang itu.

Setelah membayar dukun itu dengan mahal, pada suatu malam dilakukanlah ritual pengusiran roh jahat yang prosesnya sangat menegangkan. Di satu sisi orang Jepang itu pun melakukan ritual juga. Karena Hyo-Jin kesakitan pada saat ritual tersebut, dengan terpaksa ritual itu dihentikan. Hari berikutnya pembunuhan pun terjadi kembali. Keadaan Hyo-Jin semakin parah dan dia banyak melakukan hal yang aneh. Dan sesuatu yang menyeramkan dan menegangkan pun terjadi.

imdb.com

Setting yang Menyeramkan, bukan Horror Jump Care, dan Plot Twist yang Keren

Setting film ini benar-benar dibangun sangat mendukung berjalannya cerita di film ini sendiri. Berlokasi di sebuah desa kecil yang asri di daerah pegunungan dengan rumah-rumah tradisionalnya yang terkesan dengan nuansa pedesaan di khas. Desa yang dingin dan bernuansa suram, kelam dengan penerangan yang temaram. Tanpa ada jum scare pun pengalam horor yang dialami penonton sangat berasa sekali.

Jika ingin merasakan sensasi menonton film yang menakutkan, menyeramkan, dan berdarah-darah. Plot cerita di film ini dibuat rapih, tidak terburu-buru dan perlahan-lahan diberikan clue yang nantinya bisa menjadi kesimpulan di akhir cerita ini. Khas film horor psikologi. Meskipun begitu film ini tidak akan membuat kita bosan, malah kita akan dibuat semakin penasaran walau durasi film ini 2 jam 36 menit.

imdb.com

The Wailing sangat direkomendasikan untuk ditonton. Ditambah plot twist yang membuat kita terheran-heran dan bertanya-tanya akan siapa pelaku sebenarnya. Siapa yang jahat sebenarnya? Apakah benar si orang Jepang pelakunya? Siapa sosok perempuan muda berpakaian putih itu?

Jangan lupa untuk tonton deleted scene film ini yang akan menambah keyakinan kita siapa pelaku sebenarnya.

IMDb rating 7.5/10

Rotten Tomatoes rating 99% (Tomatometer), 82% (Audience Score)

Rating sendiri 88%

Review Penyalin Cahaya (Photocopier): Kisah Penyintas Pelecehan Sexual di Lingkungan Kampus

Film yang ditunggu-tunggu dari tahun lalu akhirnya tayang juga. Penyalin Cahaya (Photocopier) yang saya kira bakal tayang di bioskop kini sudah bisa ditonton di Netflix per tanggal 13 Januari kemarin. Bersyukurnya, film ini jadi bisa ditonton oleh penonton dari seluruh dunia. Penyalin Cahaya pertama kali tayang di Festival Film International Busan, Korea Selatan pada tanggal 8 Oktober 2021 dan di Jogja-NETPAC Asian Festival (JAFF) 2021 tanggal 2 Desember lalu.

Vibes film ini memang sudah santer terdengar dari tahun lalu. Di Twitter saja sempat trending berkali-kali karena Penyalin Cahaya berhasil masuk 17 nominasi Festival Film Indonesia (FFI) 2021, dan menyabet 12 Piala Citra FF1 2021 sekaligus, wow. Penyalin Cahaya juga menjadi film Cerita Panjang Terbaik FFI 2021, keren, kan. Nggak heran sih kalau sampai detik ini masih jadi bahan obrolanan netizen di sosial media. Setelah dua kali nonton film ini, masih berasa sakit hati, perih rasanya. Film ini memang Uedan sih. Ngaduk-ngaduk emosi.

Penyalin Cahaya merupakan film panjang pertama dari Wregas Bhanuteja. Dulu saya pernah nonton film pendeknya di youtube, Lemantun. Dan juga Tak Ada yang Gila di Kota ini yang diadaptasi dari cerpennya Eka Kurniawan dengan judul yang sama. Film ini membawa Sex Harrasment issue yang terjadi di ranah Pendidikan yang sangat relateable dengan keadaan saat ini mengenai banyaknya kasus dan kisah para korban pelecehan sexual yang terjadi di Indonesia.

@imdb.com

Sinopsis:

Penyalin Cahaya berkisah tentang Suryani (Shenina Syawalita Chinnamon) mahasiswi berprestasi jurusan web desain tahun pertama yang mendapat beasiswa dari kampus. Sur menjadi anggota baru teater kampus, teater Mata Hari yang mengurus website teater. Ketua teater Mata Hari, Anggun (Dea Panendra) yang juga sebagai sutradara, Rama (Giulio Parengkuan) yang merupakan penulis di teater tersebut, dan Kakak Senior teater, Thariq (Jerome Kurnia).

Setelah kemenangan teater, besoknya mereka mengadakan party di rumah Rama untuk merayakan keberhasilan teater mereka yang sekaligus membawa mereka untuk mengikuti kompetisi tingkat asia di Kyoto, Jepang. Awal mula kejadian dimulai di sini. Sur dan sahabatnya, Amin (Chicco Kurniawan) seorang tukang fotocopy di kampus tersebut datang bersama. Mereka party sambil ‘minum-minum’. Setelah selesai, pagi harinya Sur, sudah tertidur dan berada di kamar rumahnya.

Foto selfienya yang sedang drunk tersebar di internet dan lingkungan kampus. Beasiswanya terpaksa dicabut. Rasa kecewa dan marah jadi satu. merasa ada yang ganjal dari semua kejadian yang dialami. Hingga dia mencari tau, dengan dibantu Amin buat curi data teman-temannya di hape. Sur dengan gigih mencari jawaban siapa orang yang tega berbuat keji kepadanya? Hingga pada akhirnya satu per satu petunjuk dia dapatkan.

@imdb.com

Dan di sini cerita menjadi menarik karena penonton seperti diajak mencari tau siapa dalang dari semua ini. Selain bertabur bintang, Akting para pemain di film ini sangat bagus. Membuat kita bisa merasakan empati kepada karakter yang dimainkan mereka. Ada Bapaknya Sur yang dimainkan (Lukman Sardi), Ibunya Sur (Ruth Marini), Farrah (Lutesha) yang berhasil mencuri perhatian penonton.

Kita diperlihatkan bagaimana perjuangan seorang penyintas pelecehan sexual dalam memperjuangkan haknya untuk menuntut si pelaku dan membawanya ke ranah hukum. Jungkir balik Sur demi mendapatkan keadilan sangat terasa di sini. Emosi kita akan dibuat campur aduk. Kesal, Marah, Sedih, Muak dan lain sebagainya. Pelaku yang mempunyai Power besar yang membuat kejahatan sexual terasa sulit untuk dibungkam. Hukum seakan bisa dibeli ditangan mereka. Ingat, kejadian seperti ini tidak hanya menimpa perempuan, tetapi juga laki-laki, anak kecil bahkan siapa saja.

@imdb.com

Dari film ini kita seakan diberikan gambaran bahwa pelcehan sexual itu bisa menimpa siapa pun, di mana pun, dan kapan pun. Tidak pandang bulu. Di dunia yang memang sudah gila ini, apa pun bisa terjadi, bahkan hal-hal yang tidak pernah terbayangkan sekalipun. Ada satu jargon di film ini yang membekas dan menyimpan makna tersirat di dalamnya. 3M: Menguras, Menutup, Mengubur. Seperti kasus yang dialami Suryani, dan Suryani, Suryani lainnya di luar sana.

Disamping kasus yang dialami salah satu crew Penyalin Cahaya yang menjadi bahan pembicaraan hangat baru-baru ini. Pihak Rekata Studio & Kaninga Pictures sudah menindak lanjuti kasus ini. So, Calm down, dan sudah tidak ada alasan lagi untuk tidak menonton Penyalin Cahaya.

IMDb rating 7.5/10

Rating dari saya 88/10