Angin (part II)

Angin  (part II)
Kita adalah tokoh utama dalam kisah ini
Masa yang kita lewati menjadi kumpulan cerita panjang
Dalam sejarah
Ku tulis kisah kita dalam setiap lembaran-lembaran buku hati
yang tak kan pernah habis
Kenyataan
Membuatku ku harus berhenti sejenak menulis cerita ini
            Perpisahan itu selalu ada dalam setiap perjumpaan
            Angin
            Janganlah kau datang pergi dan berlalu
            Janganlah kau biarkan kisah ini
            menjadi kenangan usang yang tersimpan
            dalam kotak kayu tua tak terurus
Di tempat itu
Debu-debu masin tua menjadi saksi
Ku tahu ini bukan akhir
Karna bagian cerita yang terputus
Akan segera tersambung kembali

Angin


Angin
Kau seperti angin
Datangmu tak disangka
Semilirmu membuatku memicingkan mata
Awalnya
Ku kira kau penggaggu
Ternyata bukan
            Saat ku merasa sendiri di sini
Sepi    
Ku gerah dalam ramai
Saat itu kau melintas pelan
Ada kesejukkan
Ku hirup perlahan aroma kedatanganmu
Menenangkan
Kau menyadarkanku
Angin
Kau adalah karunia Tuhan
Kau mengajarkanku kesabaran
Angin
Sekarang ku tahu
Kau adalah sahabatku
           

The Rain


The Rain
 
Nggak tahu kenapa aku suka sekali sama hujan. Sebelum hujan turun, biasanya sudah tercium aromanya sebagai tanda kedatanganya. Menenangkan. Ketika rintik-rintik hujan jatuh ke tanah dan mereka saling berpadu padan, yang akan menghasilkan aroma dengan paduan harum tanah. Sentuhan khas yang menentramkan. Aroma hasil racikan Tuhan.
Hujan itu memiliki unsur magis yang memikat. Bisa membuat kita tanpa sadar berhenti dari aktifitas, pergi memandanginya dan terdiam, termenung. Rintikan air yang jatuh dari langit mengalir, seperti membawa pikiran kita masuk ke dalam lubang masa lalu. Melankolis.
Aku hirup wanginya dalam-dalam, aku biarkan mereka masuk dan meresap ke setiap aliran darahku.Memejamkan mata, menenangkan jiwa.
Selepas hujan, sisa-sisanya pun masih membawa ketenangan. Bulir-bulir yang tertinggal di atas dedaunan, menyedapkan pandangan. Menyisakan sepotong kenangan tentang kebahagian. 
Bau basah tanah, aku selalu merindukannya dan akan menikmati setiap kehadirannya. Hujan adalah penyembuh, bagi jiwa yang kering.

Hasil Karyaku

I. Buku Antologi Cerpen Bersama Forum Lingkar Pena (FLP) Bekas: 2009
II. Buku Antologi (Flash Fiction) untuk Korban Tsunami Jepang: 2010
III. Buku Antologi Cerpen bareng Pipit Senja: 2014
 IV. Buku Antologi Cerpen bersama Forum Lingkar Pena (FLP) Bekasi: 2015

Super Father: Kisah Ayah Sepanjang Masa (Ada cerpenku di buku ini :))


 
Judul: Super Father
Penulis: Amanda Ratih Pratiwi, dan Tim Forum Lingkar Pena (FLP) Bekasi
Penerbit: Metagraf (Tiga Serangkai)
Kisah Ayah Sepanjang Masa
“…Cahaya terasa berharga saat gelap abadi.
…Suara menjadi nyata saat sempurna sepi.
…Seperti cintamu, Bapak, yang baru kami pahami saat telah pergi.”
Begitulah kalimat yang terdapat dalam kisah “Cinta tanpa Kata”dari salah satu penulis dalam buku ini, Sakti Wibowo. Sebuah kisah tentang seorang Ayah yang bersikap dingin terhadap anaknya yang mungkin sukar untuk diterima oleh seorang anak yang ingin dimengerti dan dipahami pada saat itu. Akan tetapi dibalik sikapnya itu, tersimpan sejuta cinta yang tak terkira. Kisah ini begitu melankolis dan mengharukan.
Super Father adalah sebuah buku antologi yang berisi kisah tentang pengalaman serta kenangan bersama Ayah yang tak terlupakan. Terdapat dua puluh kisah yang akan membuat kita semua merenung tentang segala jasa dan pengorbanan yang beliau berikan kepada kita.
Sosok Ayah memang tidak sepopuler seorang Ibu yang sudah melahirkan kita, yang kisahnya sering diangkat dan dibicarakan. Di balik semua itu, sosok seorang Ayah tidak kalah pentingnya. Beliau yang rela membanting tulang, bekerja keras demi menafkahi keluarga. Seorang pemimpin dalam keluarga yang memberikan contoh baik kepada anak-anaknya.
Ada enam belas penulis yang berasal dari Forum Lingkar Pena (FLP) Bekasi yang menyumbangkan kisahnya bersama Ayah dalam buku ini. Seperti yang dituliskan oleh Amanda Ratih Pratiwi mengenai sosok Ayah yang menjadi inspirasinya dalam “Papiku, Papanya, dan Ayah Mereka.” yang mengisahkan sosok Ayah yang bersikap lembut dan hampir tak pernah marah, yang banyak mengajarkan tentang arti kesabaran dan kejujuran.
Dalam kisah “Tentang Ayahku” yang di tulis oleh Ardhani yang mengisahkan tentang perjuangan seorang Ayah yang menjadi guru honorer di kota besar. Dengan gaji guru honorer yang cukup menyedihkan, ditambah gaji selama tiga bulannya yang belum dibayarkan. Seorang guru honorer yang sudah dua puluh tahun mengabdi, kini nasibnya terkatung-katung karena kontrak kerjanya tidak akan diperpanjang lagi. Betapa berat tanggung jawab seorang Ayah demi menafkahi kebutuhan keluarganya. Sang Ayah rela melakukan apa saja, bahkan berencana untuk menjadi pemulung, demi agar anaknya bisa mengenyam pendidikan hingga bangku kuliah.
Banyak kisah di buku ini yang menggugah dan mengetuk relung hati. Selain itu, kisah yang dituliskan oleh Fitta Astriyani yang berjudul “Pahlawan Kalpataruku” akan membawa kita kepada sosok Ayah mempunyai hobi berkebun, memanfaatkan lahan yang ada di rumah dengan menanami berbagai macam jenis tanaman. Selain membuat rumah dan lingkungan tampak asri. Buah atau khasiat yang dihasilkan oleh berbagai tanaman tersebut pun akan berguna dan menguntungkan. Sosok Ayah yang mengajarkannya mencintai lingkungan dan alam sekitar.
“Kupetik Hikmahnya saat Dewasa” adalah sebuah kisah yang dituliskan oleh Aprilina Prastari. Mengisahkan sosok Ayah yang tegas yang mengajarkan banyak hal sejak dini seperti bagaimana menabung, bekerja keras dan berani bicara jika menginginkan sesuatu yang sudah diajarkan sejak dini, yang awalnya terkesan berat dan kejam, maka pada saat dewasa barulah tahu dan memahami hikmah dibalik itu semua. Sosok Ayah telihat kaku dan kurang cair terhadap anak-anaknya tetapi memiliki hati yang lembut.
Buku ini dapat mengingatkan kita lagi akan adanya lelaki mulia dalam hidup kita yang bernama Ayah, Bapak, Papa, Abi (apapun sebutannya itu) yang api cintanya tak kan penah padam terhadap anak-anak dan keluarganya. Membaca kisah-kisah di buku ini pun akan membawa kita kepada perenungan dan pertanyaan tentang keberadaan Ayah. Sudah berbaktikah kita kepada beliau?

Quiet


Quiet

Get caught a gaze sharply

Line of past time to come
Thick and stuffy
Wink for  a moment
Will feel an embrace
Then disappeared