Mendaki Gunung Rinjani Lombok-Nusa Tenggara Barat Lewat Jalur Sembalun-Torean (Bagian 2)

Jalur Torean

Melanjutkan cerita sebelumnya, Mendaki Gunung Rinjani Lombok-Nusa Tenggara Barat Lewat Jalur Sembalun-Torean (Bagian 1) saat saya dan teman-teman mendaki Gunung Rinjani Lombok-Nusa Tenggara Barat lewat jalur Sembalun-Torean yang menguras tenaga.


Setelah turun dan belum berkesempatan menduduki puncak gunung Rinjani, saya dan tiga orang lainnya kembali ke tenda yang dijaga oleh porter.


Karena masih pagi, dan belum masuk jam 8, Bapak porter yang memang stand by di basecamp Plawangan Sembalun terlihat sedang sibuk memasak sarapan.


Kami membantu agar cepat selesai karena rencananya jam 12 kami akan langsung beres-beres dan lanjut ke danau Sagara Anak. Karena kami juga harus menunggu satu orang teman kami yang berhasil muncak turun dulu.


Perkiraan kami dia sampai ke basecamp siang. Jadi kami pun membantu untuk merapihkan barang-barangnya biar nanti bisa segera berangkat tanpa harus menunggu lama.

Jam 1 siang kami turun menuju danau Sagara Anak. Kasihan teman yang baru datang, istirahat sebentar, dan harus berangkat turun lagi. Gambaran seorang Wonder Woman in real life ada di dia. Dia adalah seorang Yogi, dan ibu dari tiga orang anak. Luar biasa.


Jalur yang kami lewati masuk ke dalam jalur torean. Jalur yang menurun, berbatu, dan belum ada banyak perbaikan.


“Kalau cuaca cerah, kita bisa sampai ke danau kira-kira sekitar 3 jam. Jalurnya turunan, belum banyak yang lewat Torean, baru juga dibuka tahun lalu.” kata Pak Porter.

Setelah menyusuri jalur yang panjang menurun terjal, berbatu, dan diselingi padang savana, akhirnya kami sampai di danau Sagara Anak sekitar jam 5 sore. Perjalanan yang kami tempuh sekitar 4 jam lebih.


Di pinggiran danau Sagara Anak sudah banyak tenda tertancap. Rencana kami bermalam sehari di sini dan lanjut berangkat pagi. Sesampainya di Danau, Saya, Yusuf, dan Lauren memancing ikan di danau Sagara Anak.


Hanya bermodal benang kenur yang kami minta dari orang yang sedang memancing, dan memberi umpan roti tawar yang kami bawa. Ikan yang kami dapat banyak sekali, lumayan buat makan malam kami berlima. Ikannya segar dan enak walau digoreng dengan bumbu seadanya.

Memancing di Danau Sagara Anak


Selesai makan malam, kami berempat pergi ke hot spring (kolam air panas) yang berada tidak jauh dari danau Sagar Anak. Di sana sudah banyak orang yang berendam.

Malam ini cerah, dan terang bulan. Walau kondisi pemandian air panas minim cahaya, saya masih bisa sedikit melihat ada beberapa kolam air panas alami di sana.


Sesampainya berendam, kami segera bergegas menuju tenda untuk istirahat. Di pinggir bibir danau sudah ada banyak orang yang sedang melakukan ritual. Menurut informasi mereka adalah suku sasak Lombok yang beragama hindu. Suara lonceng dan rapalan doa yang dilantunkan mereka memecahkan keheningan malam.


Ritual itu berhenti menjelang fajar. Dan pagi harinya, terlihat sisa-sisa sesajen bekas ritual dan sebagian ada yang dilarung ke danau.

Pagi harinya kami memancing kembali untuk sarapan. Dan kami menangkap ikan seperlunya karena kalau pagi rasanya kurang enak kalau makan besar.


Setelah sarapan selasai, dan beres-beres, jam 9 pagi kami melanjutkan perjalanan kembali. Perjalanan akan memakan waktu sekitar seharian.


“Kalau cuaca cerah, terus jalannya cepat dan tidak banyak istirahat, kita bakal sampai di pos 1 Torean jam 5 sore.” jelas Pak porter. Panas dingin saya mendengarnya, lama juga ternyata.


Setelah satu jam jalan melewati jalan yang menurun dengan jalur yang dikelilingi savana saya optimis untuk bisa tepat waktu. Memasuki dua jam perjalanan dan seterusnya.

Ternyata jalannya banyak yang rusak. Penuh batu-batuan dan dikelilingi jurang yang luar biasa dalam kayak nggak ada ujungnya.


Keamanan minim. Cuma ada sutas tali nempel di dinding. Kami jalan menyisir dengan lebar jalan hanya 1 meter yang di bawahnya jurang. Ngeri-ngeri sedap.

Jalur berikutnya bukan menurun, tapi turun-naik gunung yang saya sendiri sudah tidak tau berapa kali anak-anak bukit dan gunung yang sudah didaki dan diturunin.


Ditambah lagi ada adegan panjat tebing dan menuruni tebing dengan bantuan tali yang seadanya. Di sepanjang jalur perjalanan terdapat banyak mata air dan sungai.

Jadi untuk urusan air, tidak akan terkendala. Jalur torean itu persis kayak lirik lagu film kartun Ninja Hatori. “Mendaki gunung lewati lembah, sungai mengalir indah…,”

Jalur Torean


Buat pendaki yang mau santai nanjaknya sambil menikmati pemandangan, recommended sih jalur torean ini.

Tapi bagi yang nggak terlalu suka medan yang extrim, jalur ini kurang cocok. Karena ada beberapa pendaki yang sampe bermalam di sini, sudah malam tapi masih belum sampai.

Dan jarang terlihat pendaki lewat sini juga. Tetapi pemandangan yang bisa kita lihat sangat sangat indah. Ada penampakan air terjun juga yang tinggi banget. Juara sih kalau soal lanskap indahnya jalur Torean.


Di pos 1 ada banyak tukang ojek. Saran saya mending naik ojek. Karena dari pos 1, kita masih harus jalan lagi kurang lebih 1 km dengan jalur mirip hutan yang masih alami.


Karena sudah jam 6 saat itu, kami memutuskan naik ojek untuk sampai ke basecamp. Karena sebelumnya juga sudah hujan dari jam 4 sore.***

Di Tepi Jurang Air Terjun Penimbungan

Mendaki Gunung Rinjani Lombok-Nusa Tenggara Barat lewat jalur Sembalun-Torean (Bagian 1)

Landskap di Sekitar Desa Sembalun

Aku mau cerita sedikit pengalaman naik gunung RinjaniLombok, Nusa Tenggara Barat saat pandemi di bulan september 2021. Awalnya aku coba ikut open trip bareng Backpacker Jakarta (BPJ), berhubung ada Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) level empat pada waktu itu yang seharusnya di bulan Juli berangkat, jadwal diubah ke Agustus, dan karena PPKM masih terus berlanjut, hasil diskusi di grup memutuskan untuk dialihkan ke tahun depan. PCR yang mahal, dikejar waktu dan lain-lain menjadi alasan di postpone ke tahun depan.

Setelah melewati drama panjang, dan karena aku memang sudah ada niat untuk pergi tahun ini ditambah sudah beli tiket pesawat (walau tidak dipakai karena Air Asia batalin penerbangan selama PPKM) akhirnya aku dan tiga member lain memutuskan untuk tetap berangkat tanggal 17 September yang dengan terpaksa harus beli tiket lagi. Karena syarat keberangkatan saat itu cukup test antigen saja. Salah satu dari kami ada yang sudah ke Rinjani jadi agak merasa terbantu, walaupun kami belum saling kenal.

Tiba di Bandara Zainuddin Abdul Majid-Lombok

Setelah sampai di bandara Zainuddin Abdul MajidLombok kami langsung cari masjid untuk shalat jumat dan setelah itu langsung pergi ke basecamp yang direkomendasikan salah satu member. Dari bandara sudah dijemput sama pemilik basecamp. Sesampainya di sana kami diskusi mengenai rencana besok, ngobrol-ngobrol dengan pemilik basecamp yang ramah, dan istirahat.

Rencananya kami akan berangkat via Sembalun – Torean, tiga hari dua malam. Jadi nanti bisa nge-camp di Sagara Anak dan pulang melalui jalur Torean yang merupakan jalur baru dan katanya memiliki pemandangan yang sangat indah, sekaligus jalurnya sangat menantang dan bikin sport jantung.

Kondisi Basecamp

Habis shalat shubuh kami diantar pemilik basecamp pergi ke desa Sembalun buat urus Surat Izin Masuk Kawasan Konservasi (SIMAKSI) Taman Nasional Gunung Rinjani. Jarak dari basecamp ke Sembalun sekitar satu jam, agak jauh memang tapi tidak apa karena tempat dan pelayanannya bagus.

Gerbang Sembalun – Pos 1 – Pos 2

SIMAKSI di Desa Sembalun
Gerbang Sembalun

Kami menyewa jasa satu porter yang akan menjadi guide, membawa tenda, logistik, bantu-bantu masak, dan cari air. Dari desa Sembalun ke gerbang Sembalun kami diantar naik mobil dan lucunya adalah dari pintu gerbang Sembalun ke pos dua kami naik ojek atas saran dari anak-anak yang lain. Katanya itu bisa memangkas waktu sekitar tiga jam.

Pangkalan Ojek Pos 2

Gunung Rinjani adalah gunung tertinggi nomor tiga setelah Gunung Kerinci dan Puncak Jaya, dengan ketinggian 3.726 mdpl dan itu pasti melelahkan sekali, jadi kalau bisa sampai puncak ya syukur, dan jika tidak pun ya tidak jadi apa-apa.

Pos 2 – Pos 3

Landskap di Sekitar Pos 2

Kami mulai trekking dari pos dua, sekitar jam sepuluh siang. Selama trekking masih aman karena kondisi jalan cenderung landai dan sepanjang mata memandang padang savana. Cuaca cerah tapi berangin jadi antara panas campur dingin. Dan pada saat itu cukup banyak pendaki yang nanjak, dan banyak penampakan bule juga. Kurang lebih sekitar dua jam lamanya.

Pemandangan selama perjalanan itu awalnya biasa saja, tetapi semakin lama, semakin menanjak treknya pemandangan yang disuguhkan semakin indah. Bukit-bukit hijau terdampar, dari jauh terlihat gunung Rinjani yang gagah, persis setting film The Lord of The Rings.

Pos 3 – Plawangan Sembalun

Jalur Semakin Menanjak

Sesampainya di Pos 3, jalur semakin menanjak dan terasa melelahkan. Jalur ini biasa disebut Bukit Penyesalan. Mungkin karena jalurnya yang banyak tanjakannya dan bikin capek. Perjalanan memakan waktu sekitar empat jam dan itu full nanjak, kebayang capeknya dan agak ngeri sih pas lihat ke bawah karena cukup tinggi. Dan pemandangan yang terlihat juga jadi semakin indah. 

Disambut Kawanan Monyet

Sore harinya kami sampai. Disambut oleh puluhan monyet-monyet eksotis. Danau Sagara Anak nampak jelas dari sini. Landskap yang indah kayak lukisan cat minyak. Di sini kami dan para pendaki nge-camp. Karena di sini tanahnya cukup landai. Dan yang buat aku heran adalah bapak porternya sudah sampai duluan dan pasang tenda. Luar biasa.

Plawangan Sembalun – Puncak Rinjani (Summit Attack)

Tenda Para Pendaki

Selang beberapa menit cuaca mendadak buruk. Angin kencang dan hujan tiba-tiba turun. Suhu yang memang sudah dingin jadi semakin dingin dan mendadak gelap. Padahal masih sekitar jam empat sore. Kami dan para pendaki lain memutuskan untuk masuk tenda masing-masing saking parahnya badai saat itu. Kami pun masak di dalam tenda. Berkumpul dalam satu tenda yang agak besar buat makan malam. Bapak porter bilang kalau keadaan seperti ini biasanya ada yang sedang melakukan ritual atau sembahyang disekitaran Kawasan Gunung Rinjani atau di danau Sagara Anak.

Penampakan Danau Sagara Anak

Semakin malam semakin dingin. Hujan turun dan angin kencang sampai menggoyangkan tenda. Suara semuruh terdengar jelas. Agak chaos suasananya. Keadaan berlangsung semalaman. Jam empat pagi kami siap muncak, walau agak kesiangan berangkatnya. Sebenarnya agak segan karena masih capek, ngantuk, dan suhunya dingin banget. Hujan sudah berhenti tapi angin kencang masih ada. Karena seorang dari kami ingin sekali summit jadi kami berempat bergegas ke sana. Dengan membawa bekal seadanya akhirnya kami berempat pun berangkat.

Mencapai Puncak itu Bonus

Menikmati Breakfast
Kawan di Puncak

Jalur yang kami lalui semakin lama semakin menanjak, banyak bebatuan dan berpasir. Jalur agak rusak efek gempa Lombok 2018 lalu. Tali temali sederhana dipasang di setiap tebing untuk membantu memanjat tebing yang lumayan tinggi. Walau hanya bawa backpack saja tapi rasanya capek banget. Keinginan untuk sampai summit pupus sudah.

Alhasil aku dan dua teman ditambah satu orang pendaki lain memutuskan untuk tidak sampai puncak. Dan hanya satu orang yang sampai puncak bareng pendaki lain. Aku dan yang lain tetap naik tapi hanya untuk menikmati pemandangan dari ketinggian yang ternyata sangat indah. Minum kopi, sarapan sambil ngobrol-ngobrol. Mengingat perjalanan setelah ini masih panjang dan akan melelahkan jadi kami lebih memilih untuk menghemat tenaga karena selanjutnya kami akan langsung ke danau Sagara Anak yang terkenal itu.

Landskap Danau Sagara Anak

Jalan-Jalan Sore di Sekitar Kuta

Pantai Kuta-Bali

Assalamualaikum, selamat siang

Aku mau cerita sedikit tentang liburan di masa PPKM ini.

Selasa, 21 September 2021. Sehabis liburan di Lombok kemarin, aku menyeberang ke Bali menggunakan kapal Ferry dari *Pelabuhan Lembar-Lombok menuju Pelabuhan Padang Bai-Bali yang ditempuh sekitaran empat jam. Berangkat siang dan sampai di Bali sore. Dari Padang Bai sewa mobil ke Kuta. Perjalanan sekitar dua jam.

*(Dapet info dadakan kalau pada saat mau pulang ke Jakarta dari Bandara Lombok, Test Antigen itu tidak berlaku, jadi harus PCR. Tes Antigen hanya dari Jakarta-Lombok saja. Waduh, efek dikejar waktu juga, besok harus kerja, jadi sengaja tidak reschedule dan mampir ke Bali)

***

Pantai Kuta-Bali

Di Bali aku hanya singgah untuk penerbangan di esok harinya, jadi jalan-jalannya hanya sebentar banget dan itu pun hanya disekitaran Kuta. Pertama kali melihat Bali di masa pandemi dalam keadaan sepi. Daerah Kuta yang biasanya crowded, penuh dengan hingar-bingar, macet sana-sini mendadak menjadi lengang. Banyak sekali toko-toko yang tutup dan bertuliskan disewakan. Ada perasaan sedih sih sebenarnya saat lihat keadaan Bali kemarin.

Meskipun Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) di Bali sudah menurun ke level 3, wisatawan yang datang pun tidak sebanyak biasanya. Walaupun masih terlihat lalu-lalang bule dan turis lokal di sekitaran Kuta. Kayak ada yang kurang dan feelnya itu kayak bukan Bali. Kuta lebih terlihat kayak habis ditinggali lebih dari separuh penduduknya.

Jalan Raya Legian Kuta-Bali

Disekitaran pantai Kuta pun terlihat tidak banyak wisatawan yang bermain di sana. Wisatawan lokal masih terlihat mendominasi. Pemandangan pantai Kuta masih indah seperti biasa, apalagi saat sore hari dan menjelang matahari terbenam. Cantiknya masih sama. Pantai Kuta nampak lebih bersih. Yang bermain selancar juga masih ada walau tidak sebanyak biasanya. Aku sangat menikmati berada di pantai Kuta walau sebentar. Berjalan di bibir pantai dengan bertelanjang kaki, duduk di atas pasir sambil mendengarkan debur ombak, merasakan hembusan angin laut di kulit dan melihat matahari terbenam. Self healing sih ini.

Sunset di Pantai Kuta-Bali

***

Karena hanya semalam di Bali jadi terkesan cuma untuk numpang tidur dan siangnya sudah terbang lagi ke Jakarta. Menginap di hotel dekat Tugu Peringatan Bom Bali di Jalan Legian yang masih sama sepinya. Café dan Bar yang buka hanya dibatasi sampai pukul satu dini hari saja. Sebelum pukul Sembilan pun jalan-jalan sudah sepi. Pertokoan tutup. Walau masih ada minimarket yang buka. Sebelum balik ke Hotel aku sempatkan mampir ke Krisna untuk beli jajanan. Krisna tutup pukul Sembilan malam dan di dalam tokonya pun sepi.

Tugu Peringatan Bom Bali di Jalan Legian

Bapak supir cerita kalau di Kuta,  banyak toko-toko yang disewakan dengan harga murah, walau begitu juga tidak ada yang banyak peminatnya. Dan hotel-hotel banyak yang dijual. Setelah dijual, nama hotel itu akan diganti dengan nama yang baru. Walau lokasi tidak berbeda. Jadi di Bali, khususnya disekitaran Kuta banyak terdapat hotel baru dengan wajah lama. Itu jadi kendala buat para supir kayak bapak itu katanya. Jadi para supir banyak yang tidak tau dan sedikit kebingungan karena berubah namanya. Karena sebelumnya mereka hafal di luar kepala nama hotel-hotel di sana.

Bandara I Gusti Ngurah Rai

Di Bandara I Gusti Ngurah Rai mulai terlihat ramai, walau tidak seperti biasanya. Prosedurnya masuknya agak makan waktu. Karena ada beberapa kali pengecekan dan itu pun manual yang membuat antri Panjang. Untuk saat ini mungkin bagi yang mau ke Bali bisa datang satu atau dua jam lebih awal biar tidak antri lama.

Belum puas sih sebenarnya di Bali. Mungkin next time bisa ke Bali lagi dan bisa spend more time. Untuk saat ini nabung dulu. Semoga PPKM bisa segera berakhir dan Bali bisa seperti sediakala. Aamiin.

Pulau Pahawang-Lampung, Keindahan yang Menyengat Hati hingga Kaki

Akhir tahun kemarin, sabtu, 19-20 Desember 2020 saya ikut Open Trip (OT) Backpacker Jakarta (BPJ) ke Pulau Pahawang-Lampung. Berhubung selama pandemic ini saya Work from Home (WFH) dari Maret 2020 dan saya belum pergi kemana-mana, saya putuskan buat jalan-jalan santai buat refreshing nyegerin jiwa-raga. Karena sudah kepalang jenuh, dan sudah kekurangan vitamin sea tingkat akut, maka saya harus pergi melihat yang biru-biru. Agar bisa tetap menjaga kewarasan.

Berhubung saya juga tidak mau repot mengurus test ini-itu karena Covid-19 jika trip sendiri, jadi saya putuskan ikut OT BPJ. Dan saya memang ingin melihat laut biru, merasakan semilir angin pantai dan yang paling saya tunggu adalah snorkling. Saya berharap dengan berenang di laut lepas segala bentuk kemumetan selama WFH hanyut kebawa arus laut. Dan itu semua sudah cukup men-charging energi untuk beberapa bulan ke depan.

I was so excited, karena ini merupakan pertama kalinya saya trip ke Pulau Pahawang-Lampung, sekaligus menjadi pengalaman pertama saya menginjakkan kaki di tanah Sumatera setelah sekian lama. It finally happened. Lol.  Seperti biasa lokasi meeting point (mepo) di basecamp BPJ, di samping RS. UKI. Sebelum berangkat kakak-kakak Penanggung Jawab (PJ) bantu untuk test suhu tubuh, tanpa surat ket. rapid test. Peserta OT yang ikut sekitar 30an orang.

Kami berangkat jum’at malam dari basecamp lalu naik bus sewaan menuju Pelabuhan Merak dan lanjut naik kapal Feri ke Pelabuhan Bakauheni-Lampung selama satu jam. Suasana di dalam kapal ternyata cukup ramai. berdiri di Haluan kapal Feri, merasakan Angin sepoi-sepoi, lihat pemandangan gemerlap lampu-lampu kota dari kejauhan rasanya tenang sekali.

Sesampainya di Pelabuhan Bakauheni, kami langsung lanjut ke dermaga Ketapang dan sampai sekitar jam tujuh pagi. Saya merasa seperti sedang study tour SMA hehe. Dan ini bukan trip pertama saya dengan BPJ, sebelumnya sudah beberapa kali ikut dan seringnya berkesan.

Kami lanjut sarapan, beres-beres dan langsung naik perahu ke pulau Pahawang Besar sekaligus Taman Nemo untuk snorkling. Perjalanan kurang lebih setengah jam. Hari itu cerah, langit biru muda dan laut berwarna hijau tosca. Aroma laut dan semilir anginnya menenangkan sekali, a piece of happiness. Dari awal memang saya sudah membayangkan buat berenang di laut, dan benar-benar tidak menyangka sekarang sudah di depan mata.  

Sesampainya di lokasi yang menyatu dengan warung terapung, saya persiapkan kaca mata renang pribadi, fins dan pelampung saya sewa. Saya pun menceburkan diri ke laut bareng yang lain. Wah, nikmat Tuhanmu yang manakah yang engkau dustakan. Indah sekali Pulau Pahawang itu. Tetapi, baru lima belas menit saya di air, kejadian tidak terduga menimpa saya. Lagi asyik berenang, tiba-tiba paha saya menyentuh sesuatu, maka kejadianlah.

Paha, kaki, terasa panas terbakar. Saya buru-buru naik ke atas dan duduk di warung. Sesampainya di atas keadaannya malah semakin parah, dari perut hingga ujung kaki saya merasa seperti terciprat minyak panas pada saat goreng ikan atau goreng otak-otak.

Saya benar-benar tidak tahu apa-apa saat itu. Sampai ada orang-orang yang bilang kalau saya disengat ubur-ubur, dan mereka melihat dari atas kalau saat berenang saya menabrak ubur-ubur. Sumpah lemes banget saat itu. Saya terpikir kalau liburan saya bakal rusak. Padahal ini baru di hari pertama. Atas saran orang-orang, saya basuhi perut sampai kaki, terutama paha saya dengan air mineral yang teman saya bantu belikan di warung.

Pelan-pelan rasa sakit itu berkurang. Dan menurut warga lokal di sana, tidak sampai sehari nanti akan normal lagi. Karena kebetulan yang menyengat ubur-ubur kecil. Dan ternyata di Pulau Pahawang banyak ubur-uburnya, bahkan ada ubur-ubur listrik yang kalau disengat bisa buat orang langsung pingsan. Ngeri banget dengernya. Alhasil, saya urungkan berenang sepanjang hari itu. Saya hanya melihat yang lain berenang. Karena seharian saya masih menahan rasa sakit. Poor me, lol.

Karena di Pulau Pahawang banyak ubur-ubur, dan mereka mempunyai tubuh yang transparan dan menyaru dengan air laut yang akan membuat kita kesulitan untuk mengetahuinya. Hemat saya, jika ke sana bisa lebih hati-hati saat berenang. Dan jika terkena tetap tenang dan basuh luka dengan air laut, jangan dengan air tawar. Karena itu yang membuat luka tambah parah. Yang penting tetap semangat dan jangan kapok main ke laut, kalo enggak nanti bakal ditenggelamkan lho sama Bu Susi. Hehe

Nongkrong Seru Ditemani Kopi & Buku di Aksara Bookstore Kemang

Suasana Aksara Bookstore Kemang

Jakarta selatan sudah terkenal dengan wilayah yang hits dan sarat hiburan di DKI Jakarta. Dari perkantoran yang wow, resto mewah, sampai betebarannya street food kece yang sering viral di sosial media. Dari sekian banyak tempat nongkrong di Jaksel yang keren, ada satu yang mau gue rekomendasiin. Barangkali ada yang belum tau.

Bulan agustus lalu gue sama dua sobat gue main ke Aksara Bookstore Kemang- Jakarta selatan. Toko buku ini tahun 2000an sempat hits dan punya beberapa cabang di Jakarta. Dan sekarang hanya tinggal satu tokonya di Aksara Bookstore Kemang- Jakarta selatan.

Buat kalian yang ingin nongkrong tapi mau yang agak beda. Menurut gue disini tempat yang cocok. Tapi berhubung sekarang sedang PSBB jilid kedua, gue kurang tahu juga, apakah di Aksara Bookstore sekarang tetap melayani Dine in atau tidak. Setidaknya gue disini mau coba cerita pengalaman gue kesini.

“Ini kan toko buku, emang bisa buat nongkrong? Nanti boring lagi.” mungkin ada yang nanya kayak gini. Gue coba jawab.

Kita nggak bakal boring kok disini, I guarantee you. Karena didalamnya tidak hanya toko buku saja tetapi juga tersedia coffee shop, resto dan gelato.

Deretan Rak Buku di Aksara Bookstore Kemang

Aksara Bookstore Kemang mungkin terdengar seperti toko buku pada umumnya tetapi jika kalian melihat langsung kesana, buku yang tersedia lebih banyak ke buku sastra, buku berbahasa inggris dan buku-buku indie. Jika kalian ingin nyari buku bacaan yang anti mainstream disini bisa jadi tempat yang tepat.

Koleksi Buku-buku dari Post-Pasar Santa

Di Aksara Bookstore Kemang juga ada buku-buku dari Post, toko buku indie yang ada di Pasar Santa-Jakarta Selatan. Jadi pilihan buku-buku disini memang beragam sekali. Dan harganya masih terjangkau dari sekitar 30K ke atas.

Kalo kalian lapar, bisa juga tuh makan berat di Kyoto Gion Café yang menyadikan menu makanan Jepang yang konsepnya ala kedai yang ada di Jepang. Harga makanan disini sekitar 30K keatas.

Kyoto Gion Café

Penampakan di dalam Resto Kyoto Gion Café

Kalian juga bisa menikmati Gelato juga loh. Menu gelatonya beragam. Rasanya enak dan seger banget. Harganya sekitara 20K cukup terjangkau dan worth it.

Ziato Gelato Aksara Bookstore Kemang

Dulu sebelum Corona menyerang Jakarta dan dunia. Aksara Bookstore itu banyak dikunjungi anak-anak muda Jakarta dan meja kursi yang tersedia juga banyak. Tetapi sekarang berbanding terbalik. Meja-kursi yang tesedia dikurangi.

Ruang Tengah Aksara Bookstore Kemang

Tapi waktu itu gue tetap bisa nongkrong dan suasanya lebih lengang juga jadi cocok buat kumpul bareng sama inner circle kita yang mungkin udah lama nggak ketemu.

Bagi pengunjung yang ingin ngobrol sambil nyemil dan ngopi disini juga ada Ruang Seduh-Coffee Shop yang akan memanjakan quality time kalian.

Ruang Seduh Coffee Shop Aksara Bookstore Kemang

Nah, bagi kalian yang mau foto-foto buat ngisi feed Instagram atau insta story, sudut-sudut Aksara Bookstore Kemang sangat instragamable dan keren banget.

Kalau mau kesini lebih baik pakai kendaraan pribadi atau naik taxi online. Lokasinya persis depan Arion Swiss-Belhotel Kemang.

Jajan Tteokppokki di K-Mart Grand Wijaya Center

K-Mart Grand Wijaya Center

Bulan agustus lalu, aku dan dua orang teman mampir ke K-Mart Grand Wijaya Center, Jalan Dharmawangsa, Kebayoran Baru-Jakarta Selatan. Berhubung ada satu orang temanku yang belum pernah nyobain Tteokppokki jadi aku mengajaknya ke K-Mart. Karena lokasinya juga tidak jauh dari kosan di Blok-A.

Pada saat itu kami datang sore dan berharap disana tidak terlalu ramai. Ternyata salah. K-Mart memang tidak terlalu besar, mirip Alfa mart/Indomaret kurang lebih dan menjual makanan-minuman brand Korea. Pengunjungnya juga banyak orang Korea. (Ya iyalah, namanya juga minimarket Korea lol)

Aneka Kimchi siap makan

Lorong makanan yang menjual aneka bumbu masakan asli Korea

Di dalam K-Mart ada kedai kecil yang lokasinya dipojokan, namanya K-Bunsik. Jual makanan street food korea, kayak Tteokppokki, Odeng, Rappoki, Bulgogi Rice dll. Untuk bisa menikmati Tteokppokki, aku sampai antri panjang saking ramainya. Kayaknya yang banyak beli itu anak-anak muda dan orang lokal. Orang korea yang datang lebih banyak beli kebutuhan sehari-sehari di minimarketnya.

Aku pesan tiga Tteokppokki  dan Odeng. Sekarang sudah tidak bisa dine in. Mungkin karena ramai, dan juga sedang Pandemi jadi harus take away. Biasanya kalau penuh, banyak mereka yang makan diemperan depan K-Mart. Aku dan teman-teman lebih memilih makan di kosan lebih nyaman.

K-Bunsik yang berada di pojok ruang

Antrian panjang pengunjung demi bisa menikmati Tteokppokki

Walaupun tempatnya kecil, setidaknya bahan-bahan makanan sehari-hari ada semua disini dan asli Korea. Mirip Papaya, cuma disini ditambah kedai street food.

Rasa Tteokppokkinya kalau menurutku enak walau agak manis. Karena pada saat itu kami pesan yang tidak pedas, yang pedas sedang habis. Isiannya ada Tteok atau kue beras, fishcake dan telur bulat. Kalau saja rasanya pedas pasti bakal jauh lebih nikmat, bumbu gochujangnya pasti jadi lebih berasa. Tapi masih worth it dan mengenyangkan, dengan harga seporsi 38k.

Paperbag berisi Tteokppokki dan Odeng

Odengnya juga enak. Fishcakenya tawar tapi ikannya berasa dan kuahnya bening dan gurih. Jadi di lidah pas, enak dan terasa seger. Satu tusuk odeng seharga 11k.

Semangkuk Tteokppokki

Lokasinya mudah dijangkau. Dekat dari Blok-M dan tidak jauh dari Stasiun MRT Blok-A. K-Mart mulai buka pukul 08.00 WIB-19.00 WIB. Buat para K-Popers, kayaknya K-Mart bisa jadi tempat yang wajib untuk dikunjungi.