Review Film Scream 2022: Nostalgia Teror Ghostface

@imdb.com

Kali ini aku mau review film slasher horror, Scream (2022) yang sudah mulai tayang di bioskop per 12 Januari 2022. Film yang ditunggu-tunggu di tahun 2022 ini. Generasi milenial tahun 90an pasti sudah tidak asing dengan film Scream (1996). Franchise horor legendaris dengan karakter Ghostface yang ikonik pertama kali tayang pada tahun 1996, dan yang terakhir di Scream 4 (2011).

Berbeda dengan film original Scream yang tayang di tahun 1996 dan seri lainnya, Scream (2022) hadir bukan dalam bentuk reboot atau remake dari filmnya terdahulu. Film ini juga bukan kelanjutan dari Scream 4. Requel, Scream (2022) mengambil cerita pasca kejadian pembunuhan kejam 25 tahun lalu di Woodsboro pada Scream (1996).

Dikarenakan Wes Craven, Scream (1996) meninggal pada tahun 2015 alhasil film ini digarap oleh Matt Bettinelli-Olpin dan Tyler Gillett, Ready or Not (2019).

Sinopsis

@imdb.com

“Would you like to play a game, Tara?”

Film ini masih bercerita tentang sosok pembunuh bertopeng Ghostface yang kembali meneror warga Woodsboro setelah tragedi pembunuhan 25 tahun lalu. Kejadian bermula saat Tara Carpenter (Jenna Ortega) yang sedang sendirian di rumah mendapat telepon misterius yang memberikan quiz mengenai film horor favoritnya.

Setelah dicecar banyak pertanyaan yang bernada intimidate oleh sosok misterius, tak lama si Ghostface pun muncul menyerang Tara membabi buta dengan pisau. Serangan tersebut tidak membuat Tara meninggal. Tara masuk rumah sakit dengan banyak luka tusukan dan kaki patah. Kejadian tersebut membuat panik warga Woodsboro.

@imdb.com

Sang kakak, Samantha “Sam” Carpenter (Melissa Barrera) dan pacarnya Richie (Jack Quaid) yang baru dikenalnya enam bulan lalu datang menjenguk. Di rumah sakit sudah ada teman-teman sekolahnya Tara. Ada Amber Freeman (Mikey Madison), Wes Hicks (Dylan Minnette), Chad (Mason Gooding), Mindy (Jasmin Savoy Brown) dan Liv (Sonia Ben Ammar).

Tara yang sudah siuman akhirnya bertemu dengan Sam yang sudah beberapa tahun kabur dari rumah. Dari obrolan tersebut ditemui fakta mengejutkan bahwa Sam adalah anak kandung dari seorang Billy Loomis (Skeet Ulrich) salah satu pelaku dari Ghostface di Scream (1996).

Dari sini dimulailah rentetan pembunuhan yang menegangkan dan sadis. Kehadiran tiga karakter legendaris di film sebelumnya menambah seru Scream (2022). Sydney Prescott (Neve Campbell), Courteney Cox (Gale Weathers), dan Sherif Dewey Riley (David Arquatte).

Horor yang Menyegarkan dan Penuh Kenangan

@imdb.com

Pola teror Ghostface di film ini sebenarnya tidak jauh berbeda dengan film Scream sebelumnya. Korbannya adalah orang-orang yang dekat dengan korban pertama. Pelakunya yang pasti lebih dari satu orang. Diselingi dengan quiz mengenai film horor. Scene itu semua ada di sini. Bahkan lokasi rumah di babak akhir film ini sama dengan yang ada di Scream (1996).

Tidak heran jika Scream (2022) adalah new original version dari film sebelumnya. Atau kelanjutan dari Scream (1996) dan mari abaikan Scream 2-4. Nonton film ini seakan membangkitkan kenangan buat para Gen Y. Nostalgia banget nonton film ini, rasanya kayak nonton Spiderman: No Way Home saat spidey versi Andrew dan Tobey muncul.

Scream (2022) dan Gen Z

@imdb.com

Sepertinya Scream (2022) hadir untuk para generasi Z yang hidup di tahun serba digital dan internet. Film Scream (1996) yang saat itu masih belum secanggih sekarang teknologinya. Seperti scene saat Tara di telepon oleh karakter Ghostface sedang menggunakan smartphone. Teknologi keamanan rumahnya menggunakan smart lock door yang bisa dikendalikan melalui smartphone. Adegan Tara mengingatkan pada Casey di Scream (1996).

“What’s your favorite scary movie?”

Saat ditanya karakter Ghostface, Tara menjawab film favoritnya adalah The Babadook (2014) dan menyebutkan film-film yang tayang di tahun 2010 ke atas seperti It Chapter 2, Hereditery,  dan The Witch.

Di menit awal kita sudah disajikan adegan yang menegangkan. Dan ini berlanjut terus hingga di akhir film. Meskipun di saat pertengahan film alur terasa agak lamban dan eksekusi penjagalannya berasa agak kurang tapi masih bisa termaafkan. Sebagai penggemar dari franchise film ini, jika dibandingkan dengan versi Scream original tahun 1996, film ini memang masih dibawahnya sedikit. Film yang bagus, tapi tidak jelek juga. Dan jika dibandingkan yang versi Scream 2-4, film ini jauh lebih baik.

@imdb.com

Film horor ini tidak berat buat ditonton, bahkan menghibur dan segar. Penonton diajak tebak-tebakan untuk mengetahui siapa pelakunya. Nggak perlu mikir banget, karena clue-nya juga banyak. Pasti bisa ketebak siapa pelakunya. Bagi yang belum nonton film originalnya dan mau nonton film ini juga nggak masalah. Cerita di film ini masih bisa berdiri sendiri walau tanpa film sebelumnya.

Di Scream (1996) pelakunya adalah Billy Loomis dan Stu, dua remaja psycho yang sadis. Sedangkan di sini, nggak kalah gila juga. Apalagi pas tau motif para pelakunya, “Sakit”. Kelakuan Gen Z bisa absurd dan segila itu ternyata.

Don’t trust anyone

IMDb rating 7.1/10

Rotten Tomatoes rating 78% (Tomatometer), 82% (Audience Score)

Rating sendiri 80%

Review The Wailing (2016) Horor Korea yang Gila Seramnya

imdb.com

Kali ini mau review film horor Korea selatan The Wailing yang tayang 2016 lalu. Film horor fenomenal yang menjadi salah satu film terlaris pada saat itu tidak hanya terkenal di negara asalnya saja, tetapi di dunia dan banyak menerima berbagai penghargaan perfilman seperti Grand Bell Award, Penghargaan Film Blue Dragon Award dan masih banyak lagi. The Wailing juga tayang di Cannes Film Festival 2016 .

The Wailing ini berbeda dengan film horor kebanyakan. Seram asli dan penuh teka-teki. Film arahan sutradara Korea Selatan, Na Hong-Jin yang juga pernah membuat film The Chaser, The Yellow Sea dan yang baru-baru ini viral yaitu film horor Thailand The Medium (2021). Menurut sang sutradara, pembuatan film ini didasarkan oleh pengalaman pribadi yang menimpa orang-orang terdekatnya yang meninggal secara tiba-tiba dan ganjil saat menyelesaikan film The Yellow Sea.

imdb.com

Sinopsis:

Film ini bercerita tentang sebuah desa kecil yang tenang bernama Gokseong yang digemparkan oleh kasus pembunuhan berantai. Kasus ini tidak biasa dan terbilang aneh. Kasus pertama dialami oleh pasangan suami-istri yang dibunuh secara brutal oleh anggota keluarganya. Pembunuh ini terlihat linglung dan tubuhnya penuh dengan benjolan bernanah. Ditambah ada penampakan sesuatu yang berbau klenik disekitarnya. Pembunuhan selanjutnya pun keadaannya kurang lebih tidak jauh berbeda.

Polisi berdatangan untuk memeriksa kasus tersebut. Seorang polisi bernama Jong-Goo (Kwak Do-Won) yang seorang polisi beranak satu dengan perangai gemuk, lamban dan penakut mencoba menyelidiki kasus tersebut dangan seorang rekan kerjanya, Oh Seong Bok (Son Gang Guk) setelah sebelumnya dikejutkan oleh penampakan seorang perempuan telanjang di kantornya pada malam hari saat hujan turun yang ternyata pelaku pembunuhan di kasus berikutnya.

Pada saat mereka berdua berjaga di lokasi kejadian, seorang perempuan muda misterius berpakaian putih, Moo Myung (Chun Woo-Hee) tiba-tiba muncul dan memberikan informasi bahwa pelakunya adalah laki-laki Jepang (Jun Kunimura) yang baru saja datang ke desa itu. Awalnya mereka tidak percaya, tetapi setelah ada seorang pendaki gunung yang pernah bertemu dengan orang Jepang itu dengan sosok mengerikan dan Jong-Goo sempat bermimpi buruk mengenai pria Jepang tersebut akhirnya mereka datang ke lokasi kejadian. Dan mereka menemukan fakta baru di sana.

imdb.com

Pada suatu hari Jong-Goo, Oh Seong Bok dan seorang pastor muda Katolik Bernama Yang I Sam (Kim Do Yoon) yang pandai berbahasa Jepang mendatangi rumah pria Jepang itu. Di sana hanya ada seekor anjing hitam saja. Mereka melihat penampakan seperti ritual perdukunan yang mengerikan, dan yang mengejukannya lagi adalah foto para korban yang tewas sebelumnya dan barang-barang pribadi milik korban ada di sana juga. Yang lebih mengagetkan lagi adalah sebelah sepatu milik anak perempuan Jong-Goo, Hyo-jin (Kim Hwan-Hee) ada di sana. Pada saat mereka kepergok orang Jepang itu yang tiba-tiba muncul. Mereka pun meminta maaf dan pamit. Orang Jepang itu hanya diam, dan menatap mereka dengan tatapan menyeramkan.

Di hari berikutnya Jong-Goo dikejutkan dengan Hyo-Jin yang tiba-tiba sakit. Berhari-hari dia sakit dan sakitnya terkesan aneh. Badannya banyak melepuh merah bernanah. Hyo-Jin seperti orang ketempelan dan kelakuannya aneh. Akhirnya neneknya mengundang seorang dukun Bernama II Gwang (Hwang Jung-min) untuk mengusir setan yang menempel di tubuh anaknya. Menurutnya semua itu adalah ulah dari orang Japang itu.

Setelah membayar dukun itu dengan mahal, pada suatu malam dilakukanlah ritual pengusiran roh jahat yang prosesnya sangat menegangkan. Di satu sisi orang Jepang itu pun melakukan ritual juga. Karena Hyo-Jin kesakitan pada saat ritual tersebut, dengan terpaksa ritual itu dihentikan. Hari berikutnya pembunuhan pun terjadi kembali. Keadaan Hyo-Jin semakin parah dan dia banyak melakukan hal yang aneh. Dan sesuatu yang menyeramkan dan menegangkan pun terjadi.

imdb.com

Setting yang Menyeramkan, bukan Horror Jump Care, dan Plot Twist yang Keren

Setting film ini benar-benar dibangun sangat mendukung berjalannya cerita di film ini sendiri. Berlokasi di sebuah desa kecil yang asri di daerah pegunungan dengan rumah-rumah tradisionalnya yang terkesan dengan nuansa pedesaan di khas. Desa yang dingin dan bernuansa suram, kelam dengan penerangan yang temaram. Tanpa ada jum scare pun pengalam horor yang dialami penonton sangat berasa sekali.

Jika ingin merasakan sensasi menonton film yang menakutkan, menyeramkan, dan berdarah-darah. Plot cerita di film ini dibuat rapih, tidak terburu-buru dan perlahan-lahan diberikan clue yang nantinya bisa menjadi kesimpulan di akhir cerita ini. Khas film horor psikologi. Meskipun begitu film ini tidak akan membuat kita bosan, malah kita akan dibuat semakin penasaran walau durasi film ini 2 jam 36 menit.

imdb.com

The Wailing sangat direkomendasikan untuk ditonton. Ditambah plot twist yang membuat kita terheran-heran dan bertanya-tanya akan siapa pelaku sebenarnya. Siapa yang jahat sebenarnya? Apakah benar si orang Jepang pelakunya? Siapa sosok perempuan muda berpakaian putih itu?

Jangan lupa untuk tonton deleted scene film ini yang akan menambah keyakinan kita siapa pelaku sebenarnya.

IMDb rating 7.5/10

Rotten Tomatoes rating 99% (Tomatometer), 82% (Audience Score)

Rating sendiri 88%

Review Penyalin Cahaya (Photocopier): Kisah Penyintas Pelecehan Sexual di Lingkungan Kampus

Film yang ditunggu-tunggu dari tahun lalu akhirnya tayang juga. Penyalin Cahaya (Photocopier) yang saya kira bakal tayang di bioskop kini sudah bisa ditonton di Netflix per tanggal 13 Januari kemarin. Bersyukurnya, film ini jadi bisa ditonton oleh penonton dari seluruh dunia. Penyalin Cahaya pertama kali tayang di Festival Film International Busan, Korea Selatan pada tanggal 8 Oktober 2021 dan di Jogja-NETPAC Asian Festival (JAFF) 2021 tanggal 2 Desember lalu.

Vibes film ini memang sudah santer terdengar dari tahun lalu. Di Twitter saja sempat trending berkali-kali karena Penyalin Cahaya berhasil masuk 17 nominasi Festival Film Indonesia (FFI) 2021, dan menyabet 12 Piala Citra FF1 2021 sekaligus, wow. Penyalin Cahaya juga menjadi film Cerita Panjang Terbaik FFI 2021, keren, kan. Nggak heran sih kalau sampai detik ini masih jadi bahan obrolanan netizen di sosial media. Setelah dua kali nonton film ini, masih berasa sakit hati, perih rasanya. Film ini memang Uedan sih. Ngaduk-ngaduk emosi.

Penyalin Cahaya merupakan film panjang pertama dari Wregas Bhanuteja. Dulu saya pernah nonton film pendeknya di youtube, Lemantun. Dan juga Tak Ada yang Gila di Kota ini yang diadaptasi dari cerpennya Eka Kurniawan dengan judul yang sama. Film ini membawa Sex Harrasment issue yang terjadi di ranah Pendidikan yang sangat relateable dengan keadaan saat ini mengenai banyaknya kasus dan kisah para korban pelecehan sexual yang terjadi di Indonesia.

@imdb.com

Sinopsis:

Penyalin Cahaya berkisah tentang Suryani (Shenina Syawalita Chinnamon) mahasiswi berprestasi jurusan web desain tahun pertama yang mendapat beasiswa dari kampus. Sur menjadi anggota baru teater kampus, teater Mata Hari yang mengurus website teater. Ketua teater Mata Hari, Anggun (Dea Panendra) yang juga sebagai sutradara, Rama (Giulio Parengkuan) yang merupakan penulis di teater tersebut, dan Kakak Senior teater, Thariq (Jerome Kurnia).

Setelah kemenangan teater, besoknya mereka mengadakan party di rumah Rama untuk merayakan keberhasilan teater mereka yang sekaligus membawa mereka untuk mengikuti kompetisi tingkat asia di Kyoto, Jepang. Awal mula kejadian dimulai di sini. Sur dan sahabatnya, Amin (Chicco Kurniawan) seorang tukang fotocopy di kampus tersebut datang bersama. Mereka party sambil ‘minum-minum’. Setelah selesai, pagi harinya Sur, sudah tertidur dan berada di kamar rumahnya.

Foto selfienya yang sedang drunk tersebar di internet dan lingkungan kampus. Beasiswanya terpaksa dicabut. Rasa kecewa dan marah jadi satu. merasa ada yang ganjal dari semua kejadian yang dialami. Hingga dia mencari tau, dengan dibantu Amin buat curi data teman-temannya di hape. Sur dengan gigih mencari jawaban siapa orang yang tega berbuat keji kepadanya? Hingga pada akhirnya satu per satu petunjuk dia dapatkan.

@imdb.com

Dan di sini cerita menjadi menarik karena penonton seperti diajak mencari tau siapa dalang dari semua ini. Selain bertabur bintang, Akting para pemain di film ini sangat bagus. Membuat kita bisa merasakan empati kepada karakter yang dimainkan mereka. Ada Bapaknya Sur yang dimainkan (Lukman Sardi), Ibunya Sur (Ruth Marini), Farrah (Lutesha) yang berhasil mencuri perhatian penonton.

Kita diperlihatkan bagaimana perjuangan seorang penyintas pelecehan sexual dalam memperjuangkan haknya untuk menuntut si pelaku dan membawanya ke ranah hukum. Jungkir balik Sur demi mendapatkan keadilan sangat terasa di sini. Emosi kita akan dibuat campur aduk. Kesal, Marah, Sedih, Muak dan lain sebagainya. Pelaku yang mempunyai Power besar yang membuat kejahatan sexual terasa sulit untuk dibungkam. Hukum seakan bisa dibeli ditangan mereka. Ingat, kejadian seperti ini tidak hanya menimpa perempuan, tetapi juga laki-laki, anak kecil bahkan siapa saja.

@imdb.com

Dari film ini kita seakan diberikan gambaran bahwa pelcehan sexual itu bisa menimpa siapa pun, di mana pun, dan kapan pun. Tidak pandang bulu. Di dunia yang memang sudah gila ini, apa pun bisa terjadi, bahkan hal-hal yang tidak pernah terbayangkan sekalipun. Ada satu jargon di film ini yang membekas dan menyimpan makna tersirat di dalamnya. 3M: Menguras, Menutup, Mengubur. Seperti kasus yang dialami Suryani, dan Suryani, Suryani lainnya di luar sana.

Disamping kasus yang dialami salah satu crew Penyalin Cahaya yang menjadi bahan pembicaraan hangat baru-baru ini. Pihak Rekata Studio & Kaninga Pictures sudah menindak lanjuti kasus ini. So, Calm down, dan sudah tidak ada alasan lagi untuk tidak menonton Penyalin Cahaya.

IMDb rating 7.5/10

Rating dari saya 88/10

Review Film Tick, Tick… Boom! untuk Para Pejuang Mimpi

Review pertama saya di awal tahun 2022 setelah sempat hiatus dari review film. Kali ini Netflix menghadirkan film originalnya kembali, Tick, Tick… Boom! film ini sebenarnya keluar di bulan november 2021, tapi saya baru sempat nonton akhir tahun 2021. Jadi film ini merupakan film musikal autobiografi mengenai Jonathan Larson, seorang penulis teater terkenal, Rent yang sempat tayang selama sebelas tahun di teater Broadway, New York. Amerika Serikat. Film ini disutradarai oleh Lin-Manuel Miranda.

Sinopsis

Film ini mengisahkan awal karir seorang pemuda yang ingin menjadi penulis teater Broadway bernama Jonathan Larson (Andrew Garfield). Broadway Theatre sendiri merupakan kumpulan teater yang berada di sepanjang jalan Broadway, New York, Amerika Serikat. Film ini berlatar belakang New York tahun 1990. Di mana Jon yang bekerja sebagai pelayan restoran di Moondance Diner mengalami Quarter Life Crisis yang merasa galau dengan mimpinya sebagai komposer teater.

Di usia yang sudah mendekati 30 tahun, dia merasa belum menjadi apa-apa dan mimpinya pun belum terwujud. Ditambah dia melihat orang-orang disekitarnya mulai realistis, dan mulai sukses dengan karir barunya. Seperti sahabatnya, Michael (Robin de Jesus) yang dulu berbakat sebagai aktor kini sukses bekerja di perusahaan advertising, dan Susan (Alexandra Ship), seorang penari dan pacar dari Jon yang memutuskan pindah ke kota lain dan bekerja di sana.

(Foto: IMDb)
(Foto: IMDb)

Jon sedang menulis drama teater berjudul Superbia yang dikerjakannya selama delapan tahun dan diyakini akan menjadi awal karirnya sebagai penulis teater. Jon yang selalu membandingkan hidupnya dengan komposer legendaris Broadway, Stephen Sondheim (Bradley Whitford) yang memulai karir Broadwaynya di usia 27 tahun, dan itu membuatnya menjadi semakin putus asa.

Jon dilema, ingin memperjuangkan mimpinya atau berbelok menjadi seorang medioker seperti teman-temannya dengan menjadi pekerja kantoran biasa. Dia juga harus membayar banyak tagihan, harus ditinggal pacarnya, dan sahabatnya pun pergi meninggalkannya karena suatu hal dan teman-temannya yang masuk rumah sakit. Di sini dia juga harus mengalami writer block saat mau menyelesaikan lagu untuk dramanya di saat dia mendapatkan kesempatan dari seorang produser untuk mempresentasikan karyanya, Superbia. Drama musikal bertema science-fiction yang agak absurd.

Saat dia berada dalam tekanan, di momen itulah dia seperti menemukan kekuatan untuk bangkit. Seperti kata pepatah What doesn’t kill you makes you stronger. Dia butuh waktu untuk menenangkan diri, Jon pergi berenang di kolam renang umum dan dia menemukan inspirasi dan mulai bangkit. Visual yang ditampilkan di scene ini bagus banget. Pada akhirnya dia berhasil mempresentasikan dengan sangat baik.

(Foto: IMDb)

Film ini sangat layak ditonton untuk para pejuang mimpi yang masih bertanya-tanya dengan pilihan menyulitkan yang sedang dirasakan, yaitu antara harus memperjuangkan mimpi atau mengalah dengan realita. Film ini mengingatkan saya dengan film musikal favorit saya, Lalaland yang dimainkan oleh mantannya Andrew Garfield, Emma Stone. Sedikit kekukarangan dari film ini mungkin karena alurnya maju-mundur yang agak membingungkan diawal. Tapi setelah film berjalan penonton akan terbiasa dengan sendirinya.

Pasti banyak yang tanya, kenapa judulnya unik, Tick, Tick… Boom! mirip acara kuis jaman dulu lol. Jadi di film ini ceritanya Jon sedang bermonolog dalam pementasan karya keduanya Tick, Tick… Boom! yang digambarkan sebagai suara detak jam yang terus berpacu seakan menuntutnya untuk segera menyelesaikan karyanya. Lagu-lagu yang ada di film ini bagus dan liriknya juga penuh makna, Lagu-lagunya memang asli buatan Jonathan Larson. Dan Tick, Tick… Boom! juga buah adaptasi dari teater musikal Broadwaynya. Penampilan Karessa (Vanessa Hudgens) sebagai penyanyi latar di sini juga mengagumkan.

(Foto: IMDb)

Akting Andrew Garfield di sini sangat menakjubkan. Karena aktingnya saat memerankan sosok Jonathan Larson itu sangat mirip. Di akhir film ditampilkan video asli Jonathan Larson, jika dilihat lagi, perawakannya memang mirip walaupun berbeda dari wajahnya. Tetapi pembawaan Garfield dalam memerankan karakter ini sangat mirip jika dilihat dari gesture, ekspresi wajahnya dan lain-lain. Jadi terlihat meyakinkan. Agak mirip dengan Reza Rahadian saat memerankan Habibie.

Ditambah Garfield juga ternyata bisa nyanyi, suaranya juga bagus. Akhir cerita hidup Jonathan Larson juga sangat menyesakkan dada. Karena di saat drama musikalnya yang berjudul Rent, akan tayang pertama kali di Broadway Theatre, dia menghembuskan nafas terakhir sehari sebelum pertunjukan karena aneurisma aorta.

IMDb rating 7.6/10

Rotten Tomatoes rating 88% (Tomatometer), 96% (Audience Score)

Rating dari saya 80%

(Foto: IMDb)

Review Film The Suicide Squad (2021): Film Wajib Tonton Di Tahun 2021

The Suicide Squad (@SuicideSquadWB)

Assalamualaikum wr. wb Mina-san.

Saya mau coba sedikit review film The Suicide Squad (2021). Jika kalian masih ingat, Suicide Squad pernah tayang di tahun 2016 dan disutradari oleh  David Ayer. Film itu ternyata banyak mendapatkan respon yang kurang baik dari para kritikus film.

Tahun 2021 ini, The Suicide Squad hadir kembali. Masih dibawah naungan DC Extended Universe, The Suicide Squad (2021) hadir lebih anyar. Film ini masih dibintangi oleh Margot Robbie sebagai Harley Quinn. The Suicide Squad (2021) berbeda dengan yang sebelumnya. Jika dibilang cerita lanjutannya juga bukan, karena memang dari sutradaranya pun berbeda. Jadi bagi yang belum menonton Suicide Squad (2016) dan ingin menonton The Suicide Squad (2021) juga tidak masalah. Karena tidak ada hubungannya dengan film sebelumnya dari segi cerita.

The Suicide Squad (2021) masih mengisahkan tentang sekelompok villains yang ditugaskan oleh Amanda Waller (Viola Davis) dalam misi rahasia yang diberi nama Task Force X. Terdiri dari, Harley Quinn (Margot Robbie), Rick Flag (John Kinnaman), Bloodsport (Idris Elba), Peacemaker (John Cena), Ratcatcher 2 (Daniela Melchior), Polka-Dot Man (David Dastmalcian) dan King Shark atau Nanaue (Sylvester Stallone). Tim Task Force X mendapatkan misi untuk menghancurkan laboratorium yang sedang menjalankan projek Starfish yang berbahaya.

The Suicide Squad (Facebook The Suicide Squad)

The Suicide Squad disutradarai oleh James Gunn, yang juga menyutradarai The Guardians of The Galaxy-nya Marvel Cinematic Universe. Tidak heran jika nuansa komedi di The Suicide Squad mirip-mirip The Guardians of The Galaxy. Film-film DC Extended Universe memang identik dengan atmosphere dark, ala Superman, Batman, atau Zack Snyder’s Justice League. Meskipun begitu, nuansa komedi di The Suicide Squad tidak lantas membuat film ini seperti The Guardians of The Galaxy. Selebihnya sangat berbeda.

Dalam scene awalnya saja, tanpa ba bi bu lagi, penonton sudah disajikan dengan adegan penuh darah yang brutal. Gila. No Sensor. Deadpool ‘mah lewat. The Suicide Squad layak tayang di layar bioskop yang lebar dengan visual dan audio yang menggelegar. Tapi ada kemungkinan adegan-adegan sadis yang hadir dari awal hingga akhir film ini bakal disensor.

Disamping itu, penjelasan tiap karakter tim Task Force X di The Suicide Squad cukup rapih. Simpati penonton akan sampai ke tiap karakter. Berbeda dengan film sebelumnya, yang hanya berfokus pada karakter Harley Quinn, Joker dan Deadshot. Pembagian karakter di The Suicide Squad cukup proporsional. Jadi tiap karakter itu punya porsinya masing-masing dan seimbang. Tidak melulu di Harley Quinn. Dari alur ceritanya pun bagus dan ringan menghibur, jadi penonton bakal betah duduk di depan TV selama 2 jam 12 menit. Rating film ini masuk ke Dewasa, jadi ini bukan film untuk anak-anak.

Kali ini Harley Quinn tampil lebih gila. Dengan scene brutalnya membantai para tantara, tetapi disajikan dengan visual yang charming dengan efek bunga warna-warni. Sweet. Karakter Bloodsport yang kuat dan kebapakan sangat pas dimainkan oleh Idris Elba, karakter Peacemaker yang menyebalkan membuat berwarna film ini. Colonel Rick Flag yang paling waras di tim Task Force X. Ratcatcher 2 dan Polka-Dot Man mampu mengundang simpati penonton. Dan yang paling epic adalah karakter Nanaue aka King Shark terlihat sangat menggemaskan tapi juga mematikan. Chemistry tiap karakter yang dibangun di film ini berhasil. Penonton pun bisa merasakan kesedihan, empati kepada karakter yang tewas ataupun scene drama yang tidak disangka.

Menurut saya ada sedikit catatan mengenai penjelasan para karakter musuhnya yang kurang dibahas lebih. Seperti karakter Thinker, President General Mateo Silvio Luna yang scenenya hanya gitu thok. Karakter Starfish terkesan terlalu lucu untuk jadi Big Villain di sini. Dan terkesan ya begitu aja. Jadi agak kurang greget. Mungkin karena dikejar durasi. Tetapi itu semua tidak mengurangi keseruan film ini.

The Suicide Squad film yang sangat menghibur di tahun 2021. Saya kasih score 8/10. Nonton film ini jangan terlalu banyak berekspektasi atau sejenisnya, cukup duduk manis di depan TV dan nikmati saja setiap adegan penuh kejutan. Saya sangat berharap The Suicide Squad bisa tayang di bioskop. Semoga pandemi ini cepat selesai, PPKM disudahi. Dan bisa ke bioskop lagi. Ada banyak film bagus tahun ini yang hanya cocok ditonton di bioskop.

Rewatching: 13 Film Horor Indonesia Terbaik di Tahun 2000-an

Pada tahun 2000an perfilman Indonesia mengalami kebangkitan setelah kurang lebih satu dekade mengalami mati suri. Berbagai tema film mulai bermunculan tiap bulannya, tak terkecuali dengan tema horor yang tidak kalah banyak peminatnya.

Walau banyak bermunculan film horor berjudul ‘nyeleneh’ yang menjadi ajang kamuflase dari film mesum berkedok horor yang menjamur pada saat itu.

Tetapi nggak usah khawatir, masih ada juga loh film horor berkualitas yang tayang di bioskop pada saat itu dan memang benar film horor yang bakal memberikan efek ketegangan dan kengerian pada saat ditonton.

Berikut ini saya akan flashback ke beberapa tahun lalu dan memberikan rangkuman 13 film horor Indonesia terbaik yang seramnya juara.

  1. Jelangkung (2001)
pict. imdb.com

Sebagai pelopor film horor di awal tahun 2000an yang menjadi tonggak berdirinya perfilman Indonesia especially film bergenre horor. Film ini diperankan oleh Winky Wiryawan, Hari Panca, Melani dan Ronni Dozer. Bercerita tentang lima sahabat yang mempunyai hobi unik mendatangi tempat angker di Jakarta. Hingga pada suatu hari mereka pergi ke suatu desa keramat bernama Angker Batu dan salah satu dari mereka memainkan permainan Jelangkung di atas kuburan keramat. Film Garapan Rizal Mantovani dan Jose Purnomo ini sukses membuat penonton begidik ketakutan. Tidak heran jika film ini menjadi film box office horor Indonesia pada saat itu.

2. Tusuk jelangkung (2003)

Film ini merupakan sequel dari film Jelangkung. Kali ini film yang disutradarai oleh Dimas Djayadiningrat. Bercerita tentang sekumpulan anak muda Jakarta yang tidak sengaja memainkan Jelangkung di rumah salah satu anak muda di film Jelangkung pertama yang masih hidup. Permainan itu mengundang hantu anak kecil bernama Turah yang pernah dipanggilnya di film pertama. Film yang dibintangi oleh Marcella Zalianty, Dina Olivia, Samuel Rizal dan beberapa artis ternama lainnya sukses membuat penonton dibuat kagum karena visualnya yang memukau dan banyak adegan action yang membuat penonton deg-degan. Untuk adegan menyeramkan Tusuk Jelangkung lebih berani dan banyak menampilkan sosok hantu-hantu yang tidak kalah menyeramkan dari film pertamanya.

3. Mirror (2005)

pict. imdb.com

Film horor yang dibintangi Nirina Zubir ini sempat booming di tahun 2005 silam. Bercertita tentang gadis SMU bernama Kikan (Nirina Zubir) yang mendapat kekuatan indigo secara tak terduga. Kikan bisa melihat hantu dan kematian seseorang. Berawal saat dia pingsan di sekolahnya karena terjatuh saat menjaili teman-temannya dengan menjadi hantu. Film ini sedikit mirip film The Sixth Sense 1999 karya M. Night Shyamalan.

4. Lentera merah (2006)

Lentera Merah adalah film horor yang memiliki latar belakang sejarah. Film horor pertama yang disutradarai Hanung Bramantyo ini berhasil membuat cerita horor yang menyeramkan diselipkan dengan teka-teki sehingga penonton diajak berpikir siapakah gadis perempuan dengan gaya retro yang hadir diantara anggota mahasiswa-mahasiswi majalah kampus bernama Lentera Merah yang sedang mengadakan inagurasi anggota baru. Film ini mencekam sekaligus penuh dengan misteri. Dibintangi oleh Laudya Cynthia Bella, Dimas Beck, Teuku Wisnu dan banyak lagi.

5. Pocong 2 (2006)

pict. imdb.com

Pocong 2 adalah sekuel dari film Pocong buatan Rudi Soedjarwo dan Monti Tiwa yang sempat dilarang tayang oleh Lembaga Sensor Film karena berbagai alasan seperti terlalu sadis dan lain sebagainya. Pocong 2 dibintangi oleh Revalina S Temat, Ringgo Agus Rahman, Risty Tagor dan Dwi Sasono. Bercerita tentang adik-kakak, Maya dan Andin (Reva dan Risty) yang diganggu hantu Pocong di apartemennya yang dibeli dengan harga murah oleh Adam (Ringgo) tunangan Maya. Kehadiran Pocong yang meneror mereka memberikan petunjuk-petunjuk tentang peristiwa apa dibalik misteri kelam apartemen dan hantu Pocong itu.

6. Kuntilanak (2006)

Film yang dibintangi oleh Julie Estelle, Evan Sanders, dan Ratu Felisha ini sempat menjadi Box Office pada waktu itu. Lagu Lingsir Wengi pemanggil Kuntilanak yang dinyanyikan oleh seorang paranormal dalam film ini berhasil membuat siapa saja yang mendengar begidik ketakutan. Film ini bercerita tentang Samantha (Julie Estelle) yang tinggal di rumah kosan murah yang menyimpan misteri. Di rumah kosan itu terdapat cermin-cermin antik Mangkoedjiwo tempat munculnya sang Kuntilanak setengah manusia setengah kuda yang sangat menyeramkan.

7. Hantu (2007)

pict. imdb.com

Film yang tidak kalah seramnya berjudul Hantu. Film ini dibintangi oleh Dhea Ananda, Oka Antara, Dwi Andika, Andhika Gumilang dan Monique Henry. Hantu menjadi film pertama Oka Antara yang sukses membuat penonton ketakutan. Hantu sendiri bercerita tentang lima sahabat yang ingin mengunjungi sebuah danau misterius di sebuah hutan. Mereka berlima mengalami kejadian-kejadian yang menyeramkan di hutan itu hingga satu persatu dari mereka di terror oleh penghuni hutan tersebut. Hantu-hantu yang ada di film ini sangat menyeramkan dan kelihatan nyata.

8. Kala (2007)

Film horor-thriller pertama Joko Anwar yang bisa membuat penonton tercengang karena saking bagusnya film ini pada saat itu. Kala sendiri sebenarnya masuk ke dalam film berjenis noir. Film ini tidak sepenuhnya horor, suspense, action dengan bumbu-bumbu sejarah sebuah negara republik.

Dead Time: Kala dibintangi oleh Fachrie Albar, Ario Bayu, Fahrani dan Shanty. Jika kalian menonton film ini kalian akan merasakan jika film ini seperti bukan dibuat oleh seorang sineas Indonesia karena ceritanya berbau Hollywood.

Dengan latar belakang sebuah kota fiksi yang terkesan ‘dark’. Penonton akan diajak merasakan sensasi yang menegangkan, menyeramkan dan hadir dengan plot twist yang membuat kita terkagum.

Meskipun film ini kurang popular di Indonesia, film ini sempat menyabet penghargaan di FFI 2007 dan di luar negeri serta di ajang film festival dunia Kala banyak dipuji oleh kritikus film.

9. Takut: Faces of Fear (2008)

Film kali ini bertema horor omnibus. Omnibus adalah rangkaian film pendek yang biasanya memiliki tema yang sama. Seperti Takut: Faces of Fear yang bertemakan horor. Takut: Faces of Fear menampilkan enam cerita pendek horor yang menyeramkan. Sesuai dengan slogannya, 7 directors, 6 stories, 1 emotion, Takut. Film ini sempat tayang di bioskop pada tahun 2008. Dan salah satu film andalan dari film omnibus ini adalah Dara/Darah yang diperankan oleh Shareefa Danish. Dara/Darah sendiri banyak diputar di berbagai festifal film dan mendulang penghargaan serta pujian. Film ini yang melahirkan film Rumah Dara (Darah) full-length feature yang sukses membuat penonton begidik ngeri dan mual.

10. Rumah Dara (Darah) (2009)

Film Horor bertemakan slasher-horor yang tidak kalah menarik selanjutnya adalah Rumah Dara (Darah) atau judul internasionalnya Macabre. Timo Brothers sukses membuat full-length feature dari film omnibus Takut: Faces of Fear (2008):

Dara (Darah). Film yang dipenuhi berkubik-kubik darah segar ini  masih diperankan oleh Shareefa Danish dan Mike Lucock. Dan jejeran aktor popular seperti Julie Estele, Ario Bayu, Sigi Wimala dan banyak bintang lainnya. Bercerita tentang keluarga ‘sakit’ yang sering menculik orang asing sebagai mangsa. Rumah Dara (Darah) atau Rumah Jagal sukses memenangkan berbagai penghargaan di dalam maupun luar negeri, salah satunya adalah Busan Festival Film di Korea Selatan.

11. Keramat (2009)

pict. imdb.com

Film horor yang namanya kurang terdengar ini menghadirkan film horor yang terbilang beda di Indonesia. Film horor yang pengambilan gambarnya melalui kamera video yang sengaja di rekam oleh salah satu aktornya pernah menghiasi film Hollywood berjudul The Blair Witch Project yang sempat sukses pada saat itu. Film ini bercerita tentang sekelompok crew film yang sedang membuat film di Jogja. Hingga pada hari berikutnya salah satu pemain bernama Migi dirasuki oleh hantu nenek moyangnya dan hilang di bawa ke suatu tempat. Hantu-hantu yang tertangkap di kamera film ini benar-benar menyeramkan. Ditambah adegan kejar-kejaran para aktor membuat kita dibawa ikut merasakan apa yang mereka rasa. Film ini dibintangi oleh Migi Parahita, Poppy Sovia, Sadha Triyudha, Miea Kusuma dan banyak lagi.

12. Hi5teria (2012)

Film horor berikutnya adalah film omnibus yang berisikan lima cerita. Hi5teria banyak dibintangi oleh actor-aktris ternama seperti Taro Basro, Luna Maya, Dion Wiyoko, Sigi Wimala dan masih banyak lagi. Ada lima judul film pendek horor yang memiliki sensasi keseraman berbeda-beda, ada Pasar Setan, Wayang Koelit, Kotak Musik, Palasik dan Loket. Jika kalian ingin melihat debut Tara Basro di film horor, tontonlah film ini.

13. Belenggu (2013)

pict. imdb.com

Belenggu adalah film jenis horor psikologis yang sempat menarik perhatian di tahun 2013. Film ini disutradai oleh Upi Avianto yang terkenal dengan film Realita Cinta dan Rock n Roll. Belenggu dibintangi oleh Laudya Chynthia Bella, Abimana Aryasatya, Imeldha Therine dan Verdi Solaiman. Film ini bercerita tentang teror pembunuh yang menggunakan kostum badut kelinci yang meresahkan kota.